Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Harga Minyak Dunia Turun ke US$103 per Barel, Tapi Badai Besar Bakal Hantam AS Bikin Khawatir

Harga minyak mentah Brent turun 1 persen menjadi US$103 per barel. Sementara harga minyak WTI AS turun 0,75 persen menjadi US$90,5 per barel.

Pengeboran minyak lepas pantai.
Pengeboran minyak lepas pantai. (migas.esdm.go.id)

Harga minyak dunia turun pada perdagangan Jumat, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November. Pernyataan itu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan, dan serangan terhadap infrastruktur energi.

Dilansir dari Economic Times pada Jumat, 9 Oktober 2026, harga minyak mentah Brent turun 1 persen menjadi US$103 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,75 persen menjadi US$90,5 per barel. 

Pada sesi sebelumnya, harga minyak mentah Brent ditutup naik US$4,08, atau 4,1 persen menjadi US$104,28 per barel, sementara minyak mentah WTI AS naik US$3,21 atau 3,6 persen, dan ditutup pada level US$91,49 per barel. 

Iklan

Kedua kontrak tersebut sempat naik lebih dari US$5 per barel, dengan harga minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak 29 September 2026.

AS-Iran Sedang Negosiasi Damai

Trump dalam unggahannya di Truth Social pada Kamis mengatakan, AS sedang melakukan diskusi yang produktif dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali AS. 

Ia menegaskan kembali bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir, dan mengklaim bahwa pengiriman minyak melalui jalur perairan strategis tersebut mencapai volume tertinggi sepanjang sejarah.

Pernyataan Trump tersebut muncul setelah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker minyak dan komersial di jalur pelayaran yang sangat strategis tersebut. 

Menurut Organisasi Maritim Inggris, setidaknya sembilan serangan dilaporkan terjadi di Selat Hormuz dan Teluk Persia selama tujuh hari pertama bulan Oktober, yang jumlahnya sudah mencapai 50 persen dari total serangan yang tercatat pada September.

Ilustrasi negosiasi Iran-AS. (Sumber: Foto Dibuat AI)
Ilustrasi negosiasi Iran-AS. (Sumber: Foto Dibuat AI)

Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa AS telah menyiapkan rencana untuk operasi militer selama tiga hari melawan Iran, yang menargetkan gudang senjata drone dan rudal, fasilitas energi, serta lokasi-lokasi lainnya. 

Harga minyak juga tetap didukung oleh konflik yang sedang berlangsung antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, bersama dengan kenaikan tajam tarif angkutan kapal tanker.

Kantor berita Fars Iran melaporkan bahwa beberapa ledakan hebat terjadi di Selat Hormuz pada Kamis malam, setelah kapal tanker minyak yang mencoba melintasi rute selatan selat tersebut terkena ranjau. Laporan tersebut mengutip sumber tak dikenal dari militer Iran, dan belum ada konfirmasi independen mengenai insiden tersebut.

Pasar Pantau Badai di AS

Di samping itu, pelaku pasar juga memantau perkembangan Badai Isaias, yang diperkirakan mencapai pesisir Teluk AS pada Jumat malam atau Sabtu dini hari. Alabama, Mississippi, dan wilayah Panhandle di Florida termasuk daerah yang berisiko terdampak.

Badai tersebut membuat sekitar 1,3 juta barel per hari pasokan minyak, atau lebih dari 60 persen produksi minyak di kawasan tersebut, berada di luar jangkauan operasi.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.