Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Kejar Pertumbuhan 8 Persen, RI Butuh Investasi Rp13.000 Triliun dalam 5 Tahun

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan kebutuhan modal tersebut bahkan melampaui total investasi yang berhasil dihimpun Indonesia selama gabungan satu dekade sebelumnya.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani. (sumber: Youtube/BKPM)
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani. (sumber: Youtube/BKPM)

Pemerintah membutuhkan investasi lebih dari Rp13.000 triliun dalam lima tahun ke depan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan kebutuhan modal tersebut bahkan melampaui total investasi yang berhasil dihimpun Indonesia selama gabungan satu dekade sebelumnya.

Besarnya kebutuhan investasi itu menunjukkan skala tantangan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sesuai target Presiden Prabowo Subianto.

Iklan

Pemerintah juga mengandalkan industrialisasi, hilirisasi, ketahanan energi, dan pengembangan industri berkelanjutan untuk menarik modal dalam jumlah besar.

Pada saat yang sama, Presiden Prabowo telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Untuk mencapainya, kita membutuhkan lebih dari Rp 13.000 triliun investasi dalam lima tahun, melampaui total investasi yang berhasil kita tarik dalam gabungan 10 tahun sebelumnya,”

kata Rosan, dikutip Jumat, 9 Oktober 2026.

Menurutnya, perubahan lanskap ekonomi global membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi. Di tengah ketidakpastian global, investor dinilai semakin mempertimbangkan stabilitas, keamanan pasokan sumber daya, serta prospek pertumbuhan jangka panjang sebelum menanamkan modal.

Hilirisasi jadi Andalan

Dalam strategi tersebut, hilirisasi tetap menjadi salah satu instrumen utama pemerintah. Indonesia juga memiliki sumber daya mineral seperti nikel, bauksit, dan tembaga yang ingin diolah lebih lanjut di dalam negeri agar tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas mentah.

Hilirisasi tetap menjadi pilar utama dari strategi ekonomi kita,”

ujar Rosan.

Pemerintah, lanjut Rosan, tengah membangun ekosistem industri terintegrasi yang menghubungkan sektor pertambangan, pengolahan, manufaktur, energi bersih, dan teknologi.

Pengembangan itu diharapkan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus membuka lapangan kerja dengan kualitas yang lebih baik.

Melalui cara inilah nilai tambah dan lapangan kerja yang lebih baik diciptakan,”

ungkap Rosan.

Di sisi lain, pemerintah menyatakan agenda industrialisasi akan berjalan beriringan dengan komitmen mencapai emisi nol bersih atau net zero emissions pada 2060 atau lebih cepat.

Untuk itu, Indonesia berupaya menggabungkan kebutuhan pertumbuhan ekonomi dengan pengembangan investasi berkelanjutan.

Rosan menyebut realisasi investasi Indonesia sepanjang 2025 telah melampaui US$120 miliar, tumbuh 12,7 persen secara tahunan dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja. 

Sementara pada semester I 2026, investasi tercatat mencapai US$61 miliar, naik 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan penyerapan 1,45 juta tenaga kerja.

Sektor hilirisasi disebut menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi nasional dan terus menarik modal dari investor domestik maupun internasional.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Redaktur Pelaksana

    Amin Suciady adalah jurnalis di OWRITE yang meliput politik, hukum, ekonomi, dan peristiwa. Ia juga dikenal sebagai peneliti sejarah lokal