Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Pemerintah Mau Bangun 3 Pabrik Tepung Telur dan Daging, Investasinya Bikin Melongo

Pembangunan industri pengolahan menjadi langkah mendasar agar persoalan pemasaran hasil peternakan tidak terus berulang.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. (Sumber: Kementan)
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. (Sumber: Kementan)

Kementerian Pertanian (Kementan) akan membangun tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging, untuk memperkuat ekosistem peternakan nasional. Pembangunan ini direncanakan dilakukan mulai 2027, dengan perkiraan kebutuhan investasi awal Rp200 miliar per pabrik.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari strategi untuk ekosistem peternakan yang terintegrasi mulai dari penyediaan bahan baku pakan, penguatan produksi petani dan peternak, hingga penyerapan serta pengolahan hasil produksi. Sehingga, bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.

Kami sudah telepon Menteri BUMN dan Menteri Perdagangan. Kita sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Insya Allah, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Targetnya 1,5 tahun selesai, maksimal dua tahun,”

kata Amran dalam keterangannya Minggu, 11 Oktober 2026.

Amran menjelaskan, pembangunan industri pengolahan menjadi langkah mendasar agar persoalan pemasaran hasil peternakan tidak terus berulang. Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan solusi jangka panjang yang mampu menyerap kelebihan produksi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasar produk segar.

Iklan

Ini solusi permanen, fundamental. Kalau pabriknya berdiri, impor tepung telur kita hentikan. Kita sudah sepakat harapannya, setelah ekosistem ini berdiri, persoalan yang sama tidak terus berulang,”

ujarnya.

Investasi Awal Rp200 Miliar

Telur ayam.
Telur ayam. (Foto: Owrite/Ossid Duha Jussas Salma).

Amran menuturkan, pembangunan tiga pabrik tersebut akan segera ditindaklanjuti melalui studi kelayakan atau feasibility study (FS). Pemerintah memperkirakan kebutuhan awal investasi sekitar Rp200 miliar per pabrik, dengan kemungkinan meningkat menjadi Rp250 miliar untuk fasilitas yang mencakup pengolahan daging.

Amran meminta jajaran terkait mengawal proses persiapan agar perencanaan, kebutuhan anggaran, dan pembangunan fasilitas dapat segera ditindaklanjuti. Ia juga membuka peluang keterlibatan swasta, dengan menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam memperkuat industri strategis tersebut.

Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya,”

tuturnya.

Amran menilai, penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir akan memberikan manfaat berlapis. Petani memperoleh pasar untuk jagung yang dihasilkan, peternak mendapat kepastian pasokan pakan, sedangkan industri pengolahan menjadi saluran penyerapan ketika produksi telur dan daging melimpah.

Adapun bila terdapat kelebihan produksi telur atau daging ayam, hasil tersebut dapat diolah menjadi produk dengan daya simpan dan pemanfaatan yang lebih luas. Sehingga, peternak tidak hanya bergantung pada penjualan produk segar yang rentan terhadap perubahan permintaan dan harga.

Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, mengurangi kerugian yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu, dan mengurangi belanja devisa untuk impor. Ini keputusan mendasar, kita bangun ekosistem peternakan yang terintegrasi satu sama lain,”

tegasnya.

Peternak Butuh Kepastian

Pekerja mengumpulkan telur ayam di salah satu peternakan di Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. (Sumber: Antara Foto/Abdan Syakura/YU)
Pekerja mengumpulkan telur ayam di salah satu peternakan di Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. (Sumber: Antara Foto/Abdan Syakura/YU)

Sementara itu, anggota Pinsar sekaligus pelaku usaha peternakan melalui PT Bereh Poultry Indonesia di Subang, Ii Cahyadi menilai pembangunan pabrik menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlanjutan pasar telur dari peternak lokal.

Cahyadi menilai industri pengolahan berskala besar membutuhkan investasi dan kapasitas yang tidak mudah dipenuhi secara mandiri oleh peternak kecil maupun koperasi. Karena itu, keterlibatan pemerintah diperlukan untuk membangun fondasi industri sekaligus memperkuat daya saing produk dalam negeri.

Industri itu tidak mungkin ditangani sendiri oleh swasta, peternak-peternak kecil, ataupun koperasi karena membutuhkan skala yang masif. Kita juga harus berhadapan dengan BUMN dari negara lain, baik India maupun China,”

ujarnya.

Menurutnya, keputusan ini memberikan harapan bagi peternak, baik untuk menghadapi persoalan pemasaran dalam jangka pendek maupun membangun kepastian penyerapan produksi dalam jangka panjang.

Alhamdulillah, hari ini beliau langsung memberikan persetujuan. Itu sangat melegakan bagi kami. Jadi, bukan hanya solusi jangka pendek, tetapi lebih dari itu, program pabrik ini diharapkan bisa mengatasi persoalan penyerapan produk peternak,”

kata Cahyadi.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.