Dradjad mengatakan, pemerintah memiliki sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tidak melemah. Hal ini sekaligus meluruskan narasi yang beredar di masyarakat.
Kalau daya beli di Indonesia itu melemah, salah. Jadi daya beli tidak melemah, buktinya banyak,”
kata Dradjad di Kantor Pusat BPS Senin, 12 Oktober 2026.
Bukti Daya Beli Masih Terjaga
Ilustrasi penggunaan QRIS. (Sumber: Bank Indonesia)
Dradjad menjelaskan, masih baiknya daya beli masyarakat terlihat dari pertumbuhan sektor transportasi dan aktivitas yang berkaitan dengan pariwisata.
Iklan
Bukti yang pertama itu misalnya adalah pertumbuhan di transportasi dan pertumbuhan yang terkait pariwisata. Transportasi itu tinggi sekali karena apa? Karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang jalan-jalan dan konsumsi,”
jelasnya.
Berdasarkan data BPS, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) yang melakukan perjalanan mencapai 842.153.737 sejak Januari hingga Agustus 2026. Angka itu meningkat 4,29 persen bila dibandingkan periode sama tahun lalu.
Selain itu Dradjad mengatakan, masih baiknya daya beli masyarakat terlihat dari transaksi melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Menurutnya, transaksi QRIS yang mencapai 100 persen, menjadi indikasi bahwa aktivitas konsumsi masyarakat masih terjaga.
Kalau transaksi QRIS meningkat drastis, itu kan nantinya memang banyak transaksi, banyak konsumsi. Jadi yang terjadi itu bukan daya beli melemah,”
katanya.
Bank Indonesia (BI) mencatat, per Agustus 2026 transaksi QRIS tumbuh tinggi mencapai 67,22 persen secara year on year (yoy). Hal itu didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Pola Konsumsi Bergeser
Ilustrasi belanja online (Foto: magnific.com)
Dradjad menilai, kondisi yang terjadi saat ini adalah adanya pergeseran konsumsi masyarakat. Pergeseran ini dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat.
Yang terjadi adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan. Termasuk di dalamnya adalah konsumsi di marketplace, konsumsi di online,”
jelasnya.
Dradjad mengatakan, adanya pergeseran perilaku masyarakat ini memengaruhi kinerja sejumlah sektor usaha, termasuk produk alas kaki dan sepatu yang sebelumnya banyak dikonsumsi secara konvensional.
Sementara itu Kepala BPS Amalia Adininggar mengungkapkan indikasi pergeseran pola konsumsi masyarakat sudah terlihat sejak tahun lalu. Kondisi ini tercatat menguat pada Semester I-2026.
Jadi kalau tadi kita perhatikan konsumsi untuk restoran dan hotel, itu tumbuhnya di atas 6 persen. Dan konsumsi untuk sektor transportasi, karena ini menyangkut mobilitas masyarakat, itu juga tumbuh relatif tinggi,”