Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menilai Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang mendukung kepercayaan investor, di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bahkan ke depan, pemerintah menempatkan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
Suahasil mengatakan, terjaganya fundamental ekonomi ditopang oleh kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), stabilitas makroekonomi, serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terus diperkuat.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, pemerintah berkomitmen menjaga keberlanjutan fiskal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi yang produktif,”
kata Suahasil dalam keterangannya Rabu, 14 Oktober 2026.
Hal tersebut disampaikan Suahasil dalam Investor Meeting Kemenkeu with Bank Indonesia & Danantara yang diselenggarakan oleh Deutsche Bank pada 13 Oktober 2026 di Thailand.
Iklan
Indikator Makro Tetap Terjaga
Dari sisi makro ekonomi, Suahasil menjelaskan bahwa sejumlah indikator menunjukkan aktivitas ekonomi domestik yang tetap terjaga. Inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,3 persen pada akhir September 2026, dan indeks manufaktur Indonesia (PMI) berada pada zona ekspansi.
Neraca perdagangan juga kembali mencatatkan surplus, mencerminkan perkembangan positif pada sektor eksternal Indonesia. Menurutnya, capaian tersebut perlu terus dijaga melalui koordinasi kebijakan yang konsisten dan responsif terhadap perubahan kondisi global.
Kendati demikian, pemerintah tetap mencermati risiko, antara lain fragmentasi perdagangan dunia, volatilitas harga komoditas, dan tingginya suku bunga global, yang dapat mempengaruhi perekonomian domestik.
Gedung Perkantoran di SCBD Jakarta. (Sumber: Unsplash/Bayu Syaits)
Janji Jaga Kredibilitas
Di samping itu, Suahasil mengatakan bahwa Indonesia terus menjaga kredibilitas pengelolaan ekonomi melalui kebijakan fiskal yang disiplin, terukur, dan adaptif terhadap berbagai risiko. Pemerintah juga berkomitmen menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan untuk mendukung pertumbuhan dan melindungi masyarakat.
Kebijakan fiskal harus mampu merespons berbagai tekanan, baik dari geopolitik, perdagangan, volatilitas pasar, maupun harga domestik, tanpa menggerus penyangga fiskal untuk masa depan,”
jelasnya.
Suahasil menekankan, pemerintah menempatkan investasi sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi ke depan. Dalam APBN 2027 pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen, dengan investasi diharapkan tumbuh setidaknya 7 persen.
Untuk mendukung pencapaian tersebut, pemerintah mendorong sinergi antara kebijakan fiskal, peran Danantara dalam investasi strategis, serta partisipasi sektor swasta,”
jelasnya.
Kepercayaan Investor
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Suminto mengatakan bahwa fokus Pemerintah tidak sekedar ingin membawa investasi masuk ke Indonesia. Namun, ingin menjadikan Indonesia mendapatkan kepercayaan investor yang berkelanjutan dalam jangka panjang.
Oleh karena itu, kita kan terus membangun kepercayaan investor melalui beberapa hal penting,”
jelasnya.
Pertama membangun kredibilitas, kinerja, dan stabilitas perekonomian, baik fiskal, moneter, maupun sektor keuangan. Menurutnya, kredibilitas dan kinerja perekonomian serta arah kebijakan secara reguler dikomunikasikan kepada market atau investor secara terpadu
Kedua adalah disiplin dan integritas pasar dijaga. Hal ini penting untuk membangun pasar keuangan yang lebih dalam, aktif, dan likuid. Ketiga terus melakukan pendalaman pasar keuangan, terutama dengan memperkuat investor institusional maupun ritel domestik.
Sehingga pasar keuangan tidak saja lebih aktif dan likuid, namun juga lebih resilien dalam menghadapi dinamika keuangan global,”