Petugas beristirahat sejenak saat pemadaman kebakaran lahan gambut di Kecamatan Pahandut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (2/9/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/kye)
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah mulai berdampak pada sektor jasa keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah mencatat 40 debitur terdampak dengan total baki debet kredit dan pembiayaan mencapai Rp10,32 miliar.
Kepala OJK Kalimantan Tengah Primandanu Febriyan Aziz mengingatkan, gangguan lingkungan dan aktivitas ekonomi akibat karhutla berpotensi memengaruhi kemampuan debitur memenuhi kewajiban pembayaran.
Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi memberikan dampak terhadap lembaga jasa keuangan,”
kata Primandanu yang dikutip dari keterangannya, Kamis, 15 Oktober 2026.
Berdasarkan data yang disampaikan OJK, total baki debet kredit dan pembiayaan dari 40 debitur terdampak mencapai Rp10,32 miliar.
Iklan
Selain itu, potensi klaim asuransi tercatat sebesar Rp455,82 juta. Data tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan dan lingkungan, tetapi juga mulai menjadi perhatian bagi sektor keuangan.
Gangguan aktivitas warga dan dunia usaha dapat menekan pendapatan, terutama ketika masyarakat kesulitan bekerja atau menjalankan usaha akibat kebakaran dan kabut asap.
Kondisi itu berpotensi mengurangi kemampuan debitur membayar cicilan, sementara kewajiban kredit dan pembiayaan tetap berjalan.
Asisten Direktur Senior Kepala OJK Kalimantan Tengah Andrianto Suhada mengatakan, dampak terganggunya aktivitas ekonomi biasanya lebih cepat terlihat pada pembiayaan jangka pendek.
Pembiayaan jenis ini relatif lebih cepat merasakan tekanan ketika arus pendapatan debitur terganggu.
Meski demikian, dampak terhadap pembayaran cicilan dapat berbeda-beda, bergantung pada kondisi usaha, sumber penghasilan, serta kemampuan keuangan masing-masing debitur.
Tekanan ekonomi tersebut terjadi di tengah meluasnya karhutla di Kalimantan Tengah. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah hingga 5 Oktober 2026, tercatat 248.531 titik panas dan 7.634 kejadian kebakaran, dengan luas lahan terbakar mencapai 16.211,83 hektare.
Lima wilayah dengan sebaran titik panas tinggi meliputi Pulang Pisau, Kotawaringin Timur, Kapuas, Seruyan, dan Palangka Raya.
Dampak karhutla juga tercermin dari gangguan kesehatan dan pendidikan. Data yang dihimpun mencatat 109.813 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), 25.701 kasus diare, serta 223 sekolah yang melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Kondisi kualitas udara di Palangka Raya bahkan dilaporkan mencapai angka AQI tertinggi 1.419, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 1.252 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut menunjukkan beratnya kondisi udara yang dilaporkan dalam periode tersebut, meski indeks AQI dan konsentrasi PM2.5 merupakan dua ukuran yang berbeda.
Gangguan terhadap kesehatan dan kegiatan sehari-hari berpotensi memperpanjang tekanan ekonomi masyarakat.
Ketika warga kesulitan bekerja atau menjalankan usaha, pemasukan dapat menurun, sementara kewajiban membayar cicilan tetap berjalan. Karena itu, perkembangan dampak karhutla terhadap debitur dan sektor jasa keuangan masih perlu dipantau seiring berlangsungnya penanganan kebakaran.