Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Minyak Brent Turun ke US$104,67 per Barel, Selat Hormuz Masih Membara

Harga minyak WTI naik ke level tertinggi dalam tiga pekan pada sesi sebelumnya, setelah kelompok Houthi menyerang markas besar Saudi Aramco.

Ilustrasi Kilang minyak lepas pantai
Ilustrasi Kilang minyak lepas pantai/Doc. Owrite/Acel

Harga minyak dunia turun lebih dari US$1 pada perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, seiring para investor mempertimbangkan risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Amerika Serikat (AS) juga tengah berupaya menekan biaya pengiriman minyak dengan melonggarkan sanksi terhadap kapal-kapal tertentu.

Dilansir dari The Economic Times, harga minyak mentah Brent turun US$1,39 atau 1,31 persen menjadi US$104,67 per barel pada pukul 01.16 waktu setempat. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$1,02 atau 1,07 persen menjadi US$94,07.

Iklan

Harga minyak WTI naik ke level tertinggi dalam tiga pekan pada sesi sebelumnya, setelah kelompok Houthi menyerang markas besar Saudi Aramco, dan Iran menyatakan akan menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz serta menjaga harga minyak tetap tinggi.

Kapal Terkena Serangan

Menurut pejabat maritim AS pada Rabu, 14 Oktober, sebuah kapal kontainer dan kapal pengangkut barang curah dilaporkan tenggelam di dekat selat tersebut dalam 24 jam terakhir, setelah terkena proyektil dalam dua insiden terpisah.

Serangan di sekitar jalur perairan tersebut telah melonjak selama 10 hari terakhir, dengan Iran menyatakan bahwa mereka meningkatkan serangan sebagai tanggapan atas blokade AS terhadap pelabuhannya, dan sanksi yang lebih ketat yang diberlakukan bulan lalu.

Perang di Iran telah mengganggu jalur pelayaran dan mendorong biaya angkutan barang ke level tertinggi sepanjang sejarah. Menanggapi kondisi tersebut, pemerintahan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk melonggarkan sanksi terhadap kapal-kapal yang disebut sebagai shadow fleet. 

Kapal-kapal ini digunakan untuk mengangkut minyak dan produk minyak bumi dari sejumlah negara, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela, guna membantu menekan harga.

Pejabat AS itu mengatakan pembahasan terbaru berfokus pada kemungkinan AS mengizinkan aliran minyak legal melalui kapal-kapal yang sebelumnya terkena sanksi.

Kenaikan Produksi Tahan Harga

Peningkatan produksi dari Rusia dan Timur Tengah telah menahan kenaikan harga. Produksi minyak mentah Rusia naik 65.000 barel per hari pada September menjadi 8,43 juta barel per hari. Namun, angka tersebut masih turun 870.000 barel per hari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

International Energy Agency (IEA) mengatakan, ekspor minyak mentah dari produsen di Teluk Timur Tengah naik sebesar 4,4 juta barel per hari pada September, menjadi sekitar 75 persen dari tingkat sebelum perang.

Menurut sumber pasar pada Rabu, yang mengutip data dari American Petroleum Institute (API), di AS persediaan minyak mentah dan minyak sulingan turun, sedangkan stok bensin naik pekan lalu.

Persediaan minyak mentah AS turun 11,1 juta barel pada pekan yang berakhir 9 Oktober, kata sejumlah sumber. Penurunan tersebut jauh lebih besar dibandingkan perkiraan para analis yang disurvei Reuters.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.