Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

IHSG Babak Belur, Saham Big Caps Berguguran hingga 14 Persen

IHSG mengalami penghentian sementara alias trading halt pada pembukaan perdagangan pasar hari ini. Merosot 8,01 persen.

Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (16/10/2026). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/sgd)

Sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) melemah tajam, menyusul kemerosotan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 11 persen pada sesi I perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026.

Berdasarkan data Stockbit hingga pukul 11.33 WIB, saham-saham big caps yang anjlok yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 14,88 persen ke Rp715, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) anjlok 4,87 persen ke Rp3.550, PT. Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) amblas 14,84 persen ke Rp1.205. 

Kemudian PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) melemah 14,81 persen ke Rp3.740, PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp14,80 persen ke Rp3.340, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 14,65 persen ke, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) anjlok 14,65 persen ke Rp1.165, Rp134, PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) melemah 14,29 persen ke Rp540.

Iklan

Lalu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok 13,99 persen ke Rp5.225, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 12,26 persen Rp2.720, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) melemah 12,37 persen ke Rp2.620.

Selanjutnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melemah 11,66 persen ke Rp1.970, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melemah 11,11 persen ke Rp24, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melemah 10,85 persen ke Rp3.040.

Adapun IHSG mengalami penghentian sementara alias trading halt pada pembukaan perdagangan pasar Jumat, 16 Oktober 2026. Pada sesi I perdagangan IHSG anjlok 8,01 persen ke level 5.393.

Problem

MSCI sudah mengumumkan rencana mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market (pasar negara berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri). 

Keputusan akhir mengenai reklasifikasi pasar modal Indonesia akan diumumkan selambat-lambatnya pada akhir Juni 2027, dan dapat memberikan pembaruan sementara mengenai masukan dari pelaku pasar selama periode konsultasi.

Adapun langkah MSCI ini menyusul kekhawatiran signifikan para pelaku pasar terkait kelayakan investasi pasar saham Indonesia. Kekhawatiran itu mencakup ketidaktransparanan yang terus-menerus dalam struktur kepemilikan saham, dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi.

“Pelaku pasar mengindikasikan kepada MSCI bahwa hingga saat ini belum terlihat kemajuan yang memadai secara konsisten di pasar saham Indonesia. Masih terdapat kekhawatiran besar terkait disfungsi pasar, termasuk berlanjutnya dugaan perdagangan terkoordinasi dan minimnya bukti penegakan hukum yang berarti,”

kata MSCI.

Selain itu, MSCI menyatakan akan tetap memberlakukan pembekuan terhadap sejumlah perubahan terkait indeks untuk saham-saham Indonesia hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Dalam kebijakan ini, MSCI tidak akan menerapkan peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) maupun Number of Shares (NOS). MSCI juga tidak akan menambahkan saham ke dalam MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI), maupun menaikkan saham ke segmen indeks berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar yang lebih tinggi.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Asred

    Seorang jurnalis di OWRITE, yang meliput isu nasional, politik, hukum dan kriminal.