Emiten milik Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) mengungkapkan, perseroan tetap beroperasi di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Direktur Utama PGUN, Jonet Budiarto mengatakan seluruh kegiatan operasional perkebunan dan pengolahan kelapa sawit Perseroan terpusat di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Karhutla di sekitar area konsesi tidak menghentikan operasional utama Perseroan. Kegiatan pemanenan dan pengolahan di pabrik kelapa sawit (PKS) tetap berjalan normal,”
kata Jonet dalam keterbukaan informasi dikutip Jumat, 16 Oktober 2026.
Tidak Hadapi Sanksi
Petani memanen buah sawit di Kalimantan Tengah (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Jonet mengatakan, konsesi dan pabrik kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Paser menyumbang 100 persen dari total volume produksi minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) dan inti sawit (PK), serta menyumbang 100 persen terhadap total pendapatan Perseroan. Untuk hasil Produksi CPO perseroan 100 persen dialokasikan untuk kebutuhan FAME afiliasinya yakni, PT Jhonlin Agro Raya Tbk.
Iklan
Jonet menuturkan, terkait karhutla perseroan tidak sedang menghadapi dan tidak berpotensi menghadapi sanksi administratif berat dari pihak yang berwenang.
Sampai saat ini, Perseroan tidak sedang menghadapi dan tidak berpotensi menghadapi sanksi administratif berat (seperti penyegelan lahan oleh KLHK/pihak berwenang, pembekuan/pencabutan izin usaha) maupun gugatan perdata/pidana terkait karhutla,”
tuturnya.
Pencegahan Karhutla
Prajurit TNI Angkatan Udara berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lahan gambut, Kota Banjar Baru, Kalimantan Selatan (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/wsj.)
Jonet menjelaskan, perseroan melakukan sejumlah pencegahan dan penanggulangan karhutla baik dalam jangka pendek dan panjang. Untuk jangka pendek telah dibentuk Satuan Satgas Karhutla selama periode kemarau dengan regu patroli, dan pemadam utama.
Kemudian pemantauan titik panas (hotspot) dengan memanfaatkan pemantauan satelit real-time dan patroli darat harian di area rawan Karhutla. Lalu menyiapkan pompa air portable, water truk dan alat berat serta menara pemantau api, serta memastikan ketersediaan embung, kanal, waduk dan cadangan air guna memastikan pasokan air yang cukup selama musim kemarau.
Selanjutnya, respons cepat dengan team harus tiba di titik api maksimal 15-30 menit setelah laporan diterima atau tergantung aksesibilitas lokasi, isolasi areal melalui pembuatan sekat untuk mencegah penyebaran api yang lebih luas.
Berikutnya pelaporan, sistem pelaporan berjenjang, komunikasi via udara (HP) untuk melaporkan perkembangan situasi secara realtime dari lapangan ke pusat komando. Kemudian komunikasi lintas sektoral membangun dan menjaga jalur komunikasi yang aktif dengan BPBD, TNI, Polri, Dinas Kehutanan dan manggala agni setempat.
Untuk strategi jangka panjang dengan menjaga tinggi muka air tanah atau kanal untuk memastikan kelembapan lahan terjaga dan mengurangi risiko potensi kebakaran, menerapkan prinsip pembukaan atau pengolahan lahan tanpa bakar secara ketat di seluruh operasional perseroan dan entitas anak.