Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengungkapkan faktor yang membuat rupiah tertekan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Bahkan, akhir-akhir ini rupiah kembali mencapai level Rp18.000 per dolar AS.
Destry mengatakan, saat ini situasi global masih diwarnai volatilitas tinggi. Amerika Serikat (AS) juga tengah menghadapi situasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer, dengan inflasi berada jauh di atas target.
Sehingga itu menjadi salah satu tantangan buat rupiah kita,”
kata Destry di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Senin, 19 Oktober 2026.
Peluang The Fed Oktober Kecil

Destry memperkirakan, Bank Sentral AS yakni Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga kebijakannya. Namun, peluang kenaikan pada Oktober 2026 akan kecil.






