Institute for Essential Services Reform (IESR) menyoroti lambatnya realisasi program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) saat pemerintahan Prabowo-Gibran memasuki tahun ketiga.
CEO IESR Fabby Tumiwa menyebut gangguan listrik berulang menunjukkan perlunya pembenahan sistem energi nasional.
Ukuran paling mendasar ketahanan energi adalah apakah masyarakat dapat memperoleh energi saat membutuhkan dengan harga yang mampu mereka bayar. Pemadaman listrik yang berulang menunjukkan bahwa kemampuan menjaga pasokan dan distribusi energi masih perlu diperbaiki secara serius,”
kata Fabby di Jakarta, dikutip Rabu, 21 Oktober 2026.
Perkembangan Proyek PLTS

IESR pun menyoroti perkembangan program PLTS 100 GW. Kapasitas PLTS terpasang di Indonesia baru mencapai 1,5 GW hingga April 2026.






