Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Mendagri Minta Maskapai Tak Jual Tiket di Harga Tertinggi saat Nataru

Peningkatan jumlah penumpang selama periode Nataru semestinya bisa menjadi peluang bagi maskapai untuk tetap memperoleh keuntungan.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Keamanan Pangan (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Keamanan Pangan (sumber: Owrite/Anisa Aulia)

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian meminta agar maskapai penerbangan tidak memasang tarif tinggi pada saat periode Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sebab, melonjaknya tarif tiket pesawat dikhawatirkan akan mengerek inflasi RI.

Tito mengusulkan agar Kementerian Perhubungan (Kemenhub), mengumpulkan sejumlah maskapai untuk membahas tarif tiket. Dalam hal ini diminta, agar maskapai tidak mematok harga acuan tertinggi.

“Saya memohon kepada Kementerian Perhubungan, khususnya Dirjen Angkutan Udara. Kalau saran saya mengumpulkan rekan-rekan airlines, ketika pada saat demand tinggi, karena banyak perjalanan nanti air tahun ini, ya mohonlah jangan sampai ngambil harganya acuan yang tertinggi,”

kata Tito di Kemenko Pangan Senin, 26 Oktober 2026.

Tetap Raih Keuntungan

Pesawat A320 milik maskapai Citilink. (Sumber: Citilink)
Pesawat A320 milik maskapai Citilink. (Sumber: Citilink)

Tito menilai, peningkatan jumlah penumpang selama periode Nataru semestinya bisa menjadi peluang bagi maskapai untuk tetap memperoleh keuntungan, tanpa harus menjual tiket pesawat dengan harga acuan tertinggi.

Iklan

“Jumlah penumpangnya pasti meningkat, otomatis tolong kalau bisa diturunkan. Untungnya kan tetap ada, tapi jangan ngambil keuntungan maksimal, supaya tidak berpengaruh kepada inflasi,”

jelasnya.

Tito menuturkan, tarif angkutan udara menjadi salah satu komponen penyumbang inflasi yang harus mendapat perhatian pemerintah. Sebab, inflasi pada Desember secara tahunan berpotensi naik, karena tingkat inflasi pada periode sebelumnya relatif rendah.

“Karena baseline bulan sebelum Desember itu relatif cukup rendah, maka perlu ada semacam subsidi. Supaya jangan sampai Desember year-on-year itu naik di atas 3,5 persen,”

katanya.

Subsidi Cegah Inflasi

Tito menjelaskan, untuk subsidi yang perlu dipertimbangkan untuk mencegah inflasi naik diantaranya subsidi listrik untuk pelanggan dengan daya 1.200 VA, penambahan pasokan bahan bakar minyak (BBM), hingga subsidi angkutan udara.

“Subsidi listrik ya 1.200 watt itu pernah kita lakukan, itu langsung deflasi. Nah kemudian subsidi lainnya, subsidi mungkin BBM. BBM-nya supply-nya, produksinya mungkin ditambah. Ketiga adalah subsidi angkutan udara, karena angkutan udara ini cukup menyumbang kenaikan,”

imbuhnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.