Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) mengungkapkan, pelaku usaha sedang menghadapi tekanan cukup berat, khususnya bagi pengusaha muda. Kondisi ini membuat sebagian pelaku usaha mulai mengutamakan strategi bertahan atau survival mode, ketimbang melakukan ekspansi bisnis.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Badan Pengurus Pusat HIPMI, Anthony Leong mengatakan saat ini kondisi pengusaha muda cukup beragam. Ada sebagian sektor yang masih mampu tumbuh, namun sebagian lainnya menghadapi tekanan berat.
“Ada sektor-sektor yang masih mampu tumbuh dan menangkap peluang baru, tetapi tidak sedikit juga pelaku usaha yang sedang menghadapi tekanan cukup berat,”
kata Anthony saat dihubungi Owrite Kamis, 28 Oktober 2026.
Anthony menuturkan, tekanan berat yang dihadapi pelaku usaha utamanya dari sisi biaya operasional, arus kas, persaingan pasar, dan daya beli konsumen.
Iklan
“Memang ada kecenderungan sebagian pengusaha muda saat ini lebih memprioritaskan menjaga keberlangsungan bisnis dibandingkan melakukan ekspansi secara agresif,”
ujarnya.
Ia menyebut, strategi bertahan itu tercermin dari langkah pengusaha yang semakin berhati-hati dalam mengelola pengeluaran, menunda investasi yang belum mendesak, melakukan efisiensi, mempertahankan pelanggan, dan tenaga kerja yang sudah ada.
“Kondisi seperti ini bisa disebut sebagai fase survival mode bagi sebagian pelaku usaha,”
jelasnya.
Kendati demikian, Anthony menilai bahwa kondisi tersebut tidak bisa digeneralisasi kepada seluruh pengusaha muda. Kemampuan bertahan dan peluang pertumbuhan setiap sektor usaha berbeda-beda.
Sektor Usaha Terdampak
Ilustrasi seorang pengusaha yang marah dan kecewa dengan laporan keuangan perusahaan sedang memarahi karyawan yang duduk di meja dalam ruang rapat. (Sumber: Unsplash/Vitaly Gariev)
Anthony mengungkapkan, ada sejumlah sektor yang cukup rentan menghadapi tekanan bisnis. Hal itu diantaranya perdagangan dan ritel, kuliner atau makanan dan minuman, fesyen dan tekstil skala kecil, serta usaha jasa yang sangat bergantung pada belanja masyarakat.
“Sektor-sektor tersebut umumnya menghadapi persaingan yang ketat, perubahan perilaku konsumen, serta kenaikan sejumlah komponen biaya, mulai dari bahan baku, sewa tempat, logistik, hingga tenaga kerja,”
jelasnya.
Dia mencontohkan, pada usaha kuliner kenaikan harga bahan pangan dapat langsung memengaruhi margin keuntungan. Sementara pada perdagangan dan fesyen, tantangannya bukan hanya menjaga penjualan, tetapi juga menghadapi persaingan harga dan perubahan tren pasar yang sangat cepat.
Sedangkan tekanan juga berpotensi meningkat bagi pengusaha yang bergantung pada bahan baku impor. Gejolak nilai tukar dapat meningkatkan biaya pengadaan barang, sehingga mempersempit ruang keuntungan pelaku usaha.
“Namun, kami tidak ingin menyebut satu sektor sebagai yang paling tertekan secara nasional tanpa didukung data perbandingan yang memadai. Kondisi usaha di setiap daerah juga berbeda,”
tuturnya.
Untuk memperkuat daya tahan bisnis, HIPMI mendorong efisiensi logistik, akses pembiayaan yang lebih terjangkau, digitalisasi usaha, peningkatan kualitas produk, serta perluasan akses pasar.
“Kami juga berharap pengusaha lokal semakin banyak dilibatkan dalam rantai pasok industri dan berbagai program ekonomi pemerintah,”
ujarnya.
Berapa Pengusaha Muda Tutup Usaha?
Ilustrasi Pengusaha Mulai Tutup Usaha. (Sumber: Unsplash/Andrew Winkler)
Meski dunia usaha tengah menghadapi tekanan, Anthony mengatakan pihaknya belum memiliki data jumlah pengusaha muda yang menutup usaha akibat kondisi ekonomi saat ini.
“Untuk jumlah pengusaha muda yang benar-benar berhenti atau menutup usaha akibat kondisi ekonomi saat ini, kami belum memiliki angka nasional terverifikasi yang dapat disampaikan sebagai data resmi BPP HIPMI,”
katanya.
Ia menyebut, penutupan usaha umumnya dapat dipicu oleh sejumlah faktor utamanya arus kas yang tidak sehat, penjualan yang tidak mampu menutupi biaya operasional, keterbatasan modal kerja, serta ketidakmampuan menyesuaikan model bisnis dengan perubahan pasar.
“Banyak usaha sebenarnya masih memiliki produk yang baik dan pelanggan, tetapi menghadapi kesulitan ketika biaya terus berjalan sementara penerimaan tidak cukup stabil. Jika kondisi itu berlangsung lama dan akses pembiayaan terbatas, kemampuan usaha untuk bertahan tentu semakin berat,”
jelasnya.
Selain itu, persaingan yang semakin ketat, perubahan teknologi, dan keterbatasan kemampuan manajemen juga dapat menjadi faktor yang memperbesar risiko penutupan usaha.
Maka dari itu, Anthony menilai upaya menjaga keberlangsungan bisnis tidak cukup hanya melalui tambahan pembiayaan. Dalam hal ini pengusaha muda juga membutuhkan pendampingan manajemen keuangan, penguatan akses pasar, peningkatan produktivitas, serta kepastian regulasi yang mendukung kemudahan berusaha.
“Kami ingin pengusaha muda Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berkembang dan membuka lapangan kerja baru. Pemerintah dan dunia usaha perlu terus memperkuat kolaborasi agar pertumbuhan ekonomi benar-benar menciptakan peluang bagi semakin banyak wirausaha, termasuk mereka yang baru merintis bisnis,”