Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti bersiap mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. (Sumber: Antara Foto/Rivan Awal Lingga/nz)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti merespons pernyataan Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Indonesia Hashim S. Djojohadikusumo terkait rupiah berpotensi menembus level Rp22.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Destry mengatakan, pihaknya akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dia menilai, kondisi fundamental ekonomi RI masih relatif baik, jika dibandingkan negara peer group.
“Kami di Bank Indonesia kan tugas kami menjaga stabilitas rupiah. Jadi kalau kita lihat pergerakan rupiah kan memang sangat banyak faktor yang mempengaruhi. Tapi kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif yang oke dibandingkan dengan peer group kita,”
kata Destry di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2026.
Faktor Pendorong
Iklan
Destry menjelaskan, pergerakan rupiah saat ini dipengaruhi oleh fluktuasi pasar. Dalam hal ini pergerakan bergantung dari penawaran, permintaan, serta persepsi investor.
“Pergerakan yang sekarang terjadi kita lihat itu bagian dari fluktuasi. Karena ini adalah market bebas dan pergerakan rupiah itu kan sangat tergantung juga dari supply demand dan persepsi,”
Ia mengungkapkan, pada hari ini rupiah tercatat menguat, yang mana kondisi itu didorong oleh keputusan The Fed menahan suku bunga acuan. Pada hari ini rupiah tercatat ditutup menguat sebesar Rp18.137 per dolar AS.
“Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global, oh Amerika gak naikkan suku bunga The Fed, dampaknya ternyata langsung positif. Jadi banyak faktor yang diluar kontrol dari kita,”
terangnya.
Namun demikian, Destry menekankan bahwa Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini dilakukan agar iklim ekonomi tetap kondusif, guna mendorong penciptaan lapangan kerja.
“Stabilitas itu kita jaga supaya bisa tercipta iklim ekonomi yang kondusif untuk nantinya bisa ekonomi di sektor riil bisa tumbuh, dan bisa membuka lapangan pekerjaan,”
ujar Destry.
Pernyataan Hashim
Sebelumnya, Adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim memperkirakan rupiah akan melemah di kisaran Rp20.000-Rp21.000 bila praktik saham gorengan terus berlanjut.
Kondisi ini nantinya juga akan menambah beban pembayaran utang luar negeri Indonesia.
“Saya sudah hitung bisa jadi Rp20.000-Rp21.000 (per dolar AS), ada yang bilang Rp22.000. Kalau itu terjadi rupiah bisa Rp21.000-Rp22.000 pinjaman luar negeri kita, kita harus bayar lebih mahal, ini jadi, bisa jadi bencana dan malapetaka bagi ekonomi Indonesia,”
kata Hashim dalam Rapimnas Kadin.
Hashim menekankan, persoalan ini tidak hanya akan berdampak ke rupiah, namun berpotensi mempengaruhi stabilitas ekonomi dan politik apabila kepercayaan investor terhadap Indonesia terus melemah.