Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada Rabu waktu setempat. The Fed memilih mengambil pendekatan hati-hati dalam memerangi inflasi, meskipun banyak bukti menunjukkan tekanan harga sulit dikendalikan.
Komite Pasar Terbuka Federal atau Federal Open Market Committee (FOMC) mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4 persen. Suku bunga tersebut berada pada level itu sejak bank sentral menyetujui kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) pada September.
“Inflasi masih berada pada level tinggi. Akumulasi informasi yang lebih banyak akan membantu Komite menentukan sikap kebijakan yang tepat untuk memastikan inflasi kembali ke target 2 persen secara tepat waktu. Komite akan mewujudkan stabilitas harga,”
kata The Fed setelah rapat dikutip dari CNBC Kamis, 29 Oktober 2026.
Perbedaan Pendapat di FOMC
Ilustrasi The Fed. (Sumber: Unsplash/Joshua Hoehne)
Dua dari 12 anggota FOMC yang memiliki hak suara menyatakan perbedaan pendapat terhadap keputusan tersebut, yakni Gubernur The Fed Lisa Cook dan Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack. Keduanya menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps.
Iklan
Lisa Cook menjadi pusat kontroversi yang terus berlanjut, setelah Presiden Donald Trump berusaha memberhentikannya dari jabatannya atas dugaan terkait informasi yang disampaikannya dalam pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) di AS.
Meskipun Mahkamah Agung menghentikan upaya Trump tersebut, pemerintah kembali melanjutkan proses pencopotan Cook. Untuk sidang dijadwalkan berlangsung pada awal November.
Pemilihan Paruh Waktu Bayangi Keputusan
Ilustrasi Pemilu di Amerika Serikat. (Sumber: Unsplash/Clay Banks)
Sementara itu, pemilihan umum paruh waktu turut membayangi keputusan The Fed. Pemungutan suara penting akan berlangsung di seluruh AS pada 3 November, dengan kendali atas Kongres menjadi salah satu hal yang dipertaruhkan.
Para pejabat The Fed menganggap independensi politik sebagai landasan utama bank sentral. Namun, sejumlah pengamat berspekulasi bahwa para pejabat tidak akan ingin menaikkan suku bunga terlalu dekat dengan waktu pemilu.
Trump yang mencalonkan, Ketua Fed Kevin Warsh untuk posisi tersebut telah berselisih dengan Fed selama bertahun-tahun. Trump menilai bahwa suku bunga acuan seharusnya jauh lebih rendah.
Perbedaan pendapat tersebut mencerminkan konflik mendasar di dalam komite mengenai seberapa agresif suku bunga perlu dinaikkan untuk mengatasi kenaikan harga. Inflasi telah berada di atas target The Fed sebesar 2 persen selama lebih dari lima tahun. Bahkan, laju kenaikan harga justru meningkat sejak rapat September.
Meski demikian, pernyataan para pejabat The Fed selama beberapa pekan terakhir menunjukkan adanya keinginan untuk menunggu data tambahan sebelum kembali memperketat kebijakan moneter.
Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson dan Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams sama-sama menyatakan bahwa kondisi ekonomi saat ini memberikan waktu bagi para pembuat kebijakan untuk mengevaluasi langkah berikutnya.
Perubahan Jadwal Rapat FOMC
Di samping itu, Warsh mengumumkan perubahan pada jadwal rapat FOMC tahun depan, dalam konferensi pers. Perubahan tersebut berpotensi mengurangi jumlah rapat penetapan suku bunga setiap tahun.
“Kami meyakini delapan rapat per tahun merupakan jumlah yang tepat bagi FOMC. Namun, pada 2027, satu rapat akan berfokus secara eksklusif pada strategi kebijakan moneter secara luas, tanpa pemungutan suara mengenai suku bunga federal funds maupun pernyataan kebijakan yang diperkirakan akan diterbitkan,”
kata Warsh.
“Rapat lainnya akan menjadi rapat rutin FOMC untuk menetapkan kebijakan. Saya memperkirakan pada 2028 akan ada dua rapat yang didedikasikan untuk membahas strategi dan enam rapat untuk menetapkan kebijakan,”