PT Vale Indonesia Tbk (INCO) membukukan pendapatan sebesar US$896,07 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (Januari-September).
Angka ini meningkat 27,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$705,39 juta.
Kenaikan pendapatan tersebut ditopang oleh peningkatan volume penjualan nikel matte serta kontribusi penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Pomalaa.
Iklan
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, produsen nikel tersebut mencatatkan laba bersih sebesar US$147,12 juta hingga akhir September 2026.
Angka ini melonjak sekitar 180,5% dibandingkan laba bersih periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$52,45 juta.
Berdasarkan laporan kinerja keuangan, yang dikutip Jumat, 30 Oktober 2026, PT Vale juga membukukan EBITDA sebesar US$297 juta sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.
Realisasi tersebut meningkat sekitar 78,9 persen dibandingkan EBITDA sebesar US$166 juta pada periode Januari-September 2025.
Khusus pada kuartal III 2026, pendapatan perseroan mencapai US$353 juta, naik 21,5% dibandingkan kuartal II 2026 sebesar US$290,41 juta.
Namun, laba bersih kuartal III tercatat sebesar US$42,75 juta, turun dibandingkan laba bersih kuartal sebelumnya yang mencapai US$60,77 juta. EBITDA juga mengalami penurunan menjadi US$101 juta dari US$116 juta pada kuartal II 2026.
Kenaikan pendapatan pada kuartal III terutama ditopang oleh peningkatan pengiriman nikel matte menjadi 20.158 ton, dibandingkan 13.932 ton pada kuartal sebelumnya.
Meski demikian, harga realisasi rata-rata nikel matte mengalami penurunan menjadi US$14.053 per ton dari US$14.765 per ton.
Dari sisi operasional, produksi nikel dalam matte mencapai 18.341 ton pada kuartal III 2026. Angka tersebut menjadi produksi kuartalan tertinggi sepanjang tahun ini, setelah perseroan menyelesaikan kegiatan pemeliharaan besar pada awal tahun.
Selain nikel matte, penjualan bijih nikel juga memberikan kontribusi terhadap pendapatan perseroan. Total penjualan bijih nikel dari Blok Bahodopi dan Pomalaa mencapai sekitar 1,73 juta wet metric tons (wmt) pada kuartal III 2026.
Penjualan dari Blok Bahodopi tercatat sebesar 415.000 wmt, sedangkan Blok Pomalaa mencapai 1,31 juta wmt.
Dengan demikian, kedua wilayah operasi tersebut menjadi salah satu penopang diversifikasi sumber pendapatan PT Vale.
Di tengah peningkatan aktivitas operasional, perseroan juga menghadapi tekanan biaya. Biaya tunai penjualan nikel matte meningkat menjadi US$10.404 per ton pada kuartal III 2026, dibandingkan US$10.005 per ton pada kuartal sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya biaya dan konsumsi energi. Konsumsi minyak bahan bakar laut (Marine Fuel Oil/MFO) dan batu bara masing-masing meningkat 6 persen dan 12 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Meski demikian, perseroan menyatakan tetap menjalankan efisiensi operasional, termasuk optimalisasi penggunaan batu bara, diesel, dan MFO serta pengendalian biaya umum dan administrasi.
Dari sisi keuangan, posisi kas dan setara kas PT Vale mencapai US$247,31 juta per 30 September 2026. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan posisi akhir Juni 2026 sebesar US$110,66 juta.
Sepanjang kuartal III, perseroan merealisasikan belanja modal sekitar US$95 juta untuk mendukung keberlangsungan operasional dan pengembangan proyek strategis.
PT Vale juga menarik pinjaman bank sebesar US$175 juta guna mendukung kebutuhan belanja modal pemeliharaan dan agenda pertumbuhan jangka panjang.