Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Meski Perang Timur Tengah Memanas, Shell ‘Serok’ Laba Bersih Rp196 Triliun

Angka itu melonjak di tengah harga minyak dan gas yang semakin melesat akibat dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Ilustrasi SPBU Shell. (Sumber: Dok. Shell Indonesia)
Ilustrasi SPBU Shell. (Sumber: Dok. Shell Indonesia)

Perusahaan energi raksasa asal Inggris, Shell, mengatakan pada Kamis, 29 Oktober 2026, bahwa laba bersih yang disesuaikan secara kuartalan mereka berlipat ganda menjadi US$10,8 miliar (Rp196,1 triliun) dari US$5,4 miliar (Rp98 triliun) pada tahun sebelumnya.

Angka itu melonjak di tengah harga minyak dan gas yang semakin melesat akibat dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

Melansir dari Middle East Monitor, Kamis, 29 Oktober 2026, laba bersih yang dilaporkan perusahaan mencapai US$12,1 miliar (Rp219,7 triliun) sementara pendapatan mencapai hampir US$93 miliar (Rp1,6 kuadriliun) menurut hasil keuangan triwulanan terbarunya.

Iklan

Diketahui, harga energi naik di tengah serangan terhadap kilang minyak di Timur Tengah dan Rusia, serta gangguan pada pengiriman melalui Selat Hormuz dan Laut Merah.

Penurunan produksi kilang telah memperketat pasokan produk minyak bumi olahan, termasuk bensin dan solar, sehingga mendorong kenaikan harga dan menguntungkan perusahaan perdagangan energi seperti Shell.

Shell juga mencatatkan pendapatan yang lebih tinggi dari gas alam cair karena harga gas Eropa naik di atas US$111 per megawatt-jam, mencapai level tertinggi selama krisis energi tahun 2022 setelah dimulainya perang Rusia-Ukraina.

Keuntungan yang lebih tinggi ini juga diperkirakan akan menguntungkan para pemegang saham Shell, karena perusahaan mengumumkan program pembelian kembali saham (buy back) senilai US$5 miliar (Rp90,7 triliun) dan mempertahankan dividen triwulanan.

Saham Shell juga naik lebih dari 3 persen pada perdagangan pertengahan pagi di London.

Meski demikian, keuntungan Shell yang melonjak juga menuai kritik dari para aktivis lingkungan.

“Saat suhu memecahkan rekor, keuntungan perusahaan minyak juga meningkat,”

tulis Greenpeace di platform media sosial Instagram.

Organisasi teraebut juga mendesak perjanjian pajak global untuk perusahaan bahan bakar fosil.

“Model bisnis mereka benar-benar berjalan di atas bencana dan itu adalah pilihan yang disengaja: keuntungan mereka adalah kerugian kita,”

imbuhnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Asisten Redaktur

    Rahmat Tunny adalah Asisten Redaktur di OWRITE yang berfokus pada peliputan berita nasional dan isu-isu kebijakan publik. Pemegang gelar