Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Perusahaan Terlibat Kasus Karhutla, Saham Wilmar Anjlok Lebih dari 4%

Saham Wilmar sempat diperdagangkan pada harga US$3,12 pada pukul 10.47 pagi, kemudian turun 4,6 persen atau 15 sen di penutupan.

Logo Wilmar International. (Sumber: Dok. Wilmar)
Logo Wilmar International. (Sumber: Dok. Wilmar)

Saham grup agribisnis Wilmar International mengalami penurunan tajam lebih dari 4 persen di bursa efek Singapura, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Aksi jual besar-besaran ini memperpanjang tren penurunan selama berbulan-bulan, bertepatan dengan berjalannya penyelidikan polisi terkait kebakaran hutan dan lahan serta laporan laba pokok kuartal ketiga yang melemah.

Melansir dari The Straits Times, Jumat, 30 Oktober 2026, saham Wilmar sempat diperdagangkan pada harga US$3,12 pada pukul 10.47 pagi, kemudian turun 4,6 persen atau 15 sen dari harga penutupan sebelumnya sebesar US$3,27 dengan sekitar 4,7 juta saham berpindah tangan.

Pada penutupan perdagangan di hari yang sama, saham ditutup pada harga US$3,11 (turun 4,89 persen) dengan total 10,5 juta saham berpindah tangan. Capaian ini mencatatkan harga terendah saham Wilmar sejak 21 Januari lalu.

Iklan

Tambah Tekanan Buat Wilmar

Kobaran api membakar lahan di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (18/10/2026).
Kobaran api membakar lahan di Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (18/10/2026). (ANTARA FOTO/Auliya Rahman/kye)

Penurunan ini juga makin mempertegas tekanan pada saham Wilmar yang telah merosot lebih dari 20 persen selama enam bulan terakhir, di mana sebelumnya saham sempat diperdagangkan pada harga US$3,99 pada 8 April.

Selain isu penyelidikan, tekanan pada saham juga diwarnai oleh laporan keuangan perusahaan untuk kuartal ketiga yang berakhir pada 30 September.

Meskipun laba bersihnya mencapai US$281 juta, namun perusahaan memberikan ganti rugi pada tahun lalu yang terbebani oleh biaya kompensasi satu kali yang dibayarkan kepada pemerintah Indonesia, sementara laba bersih intinya tercatat turun 25,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi US$267,3 juta.

Meski demikian, pihak Wilmar mengaitkan kinerja yang lebih lemah ini sebagian karena biaya bahan baku yang lebih tinggi dan margin penggilingan kedelai yang lebih rendah.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Natania Longdong adalah jurnalis di Owrite yang berfokus pada isu internasional, energi, dan lingkungan. Dengan pengalaman lebih dari empat

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.