Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Ekonom Ramal Inflasi RI Melandai di Oktober, Tapi Surplus Neraca Dagang Menyempit

inflasi RI diproyeksi turun menjadi 3,19 persen secara tahunan atau year on year (yoy), dibandingkan September 2026.

Ilustrasi inflasi. (Sumber: Unsplash/ Markus Winkler)
Ilustrasi inflasi. (Sumber: Unsplash/ Markus Winkler)

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memproyeksi Indonesia akan mengalami inflasi pada Oktober 2026, dan neraca perdagangan September diperkirakan ikut mengalami surplus. Pengumuman ini akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada hari ini.

Josua memperkirakan, inflasi RI akan turun menjadi 3,19 persen secara tahunan atau year on year (yoy), dibandingkan September 2026 yang sebesar 3,28 persen.

Kami memperkirakan inflasi Indonesia pada Oktober 2026 sedikit melandai menjadi 3,19 persen secara tahunan, dibandingkan 3,28 persen pada September. Secara bulanan, inflasi diproyeksikan sebesar 0,19 persen, lebih rendah dibandingkan 0,30 persen pada bulan sebelumnya,”

kata Josua saat dihubungi Owrite Senin, 2 November 2026.

Pendorong Inflasi

Emas Batangan Antam. (Sumber: Logam Mulia Antam)
Emas Batangan Antam. (Sumber: Logam Mulia Antam)

Josua menjelaskan, pelambatan inflasi terutama didorong oleh penurunan harga emas, dan masih tertahannya kenaikan harga energi domestik melalui kebijakan subsidi serta stabilisasi harga pemerintah.

Iklan

Untuk inflasi inti diperkirakan turun dari 2,84 persen menjadi 2,51 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan permintaan domestik belum terlalu kuat, sejalan dengan daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah yang masih menghadapi tekanan.

Namun, risiko terbesar justru berasal dari inflasi pangan, terutama kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan beras akibat gangguan produksi serta risiko kekeringan terkait El Nino,”

jelasnya.

Sementara untuk penurunan harga daging ayam, telur, dan bawang merah Josua memperkirakan akan sedikit meredam tekanan inflasi pada Oktober.

Ramalan Neraca Dagang RI

Foto udara kapal kargo memuat peti kemas bersandar di dermaga Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara.
Foto udara kapal kargo memuat peti kemas bersandar di dermaga Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara. (Sumber: ANTARA FOTO/Andry Denisah/nz)

Sedangkan untuk neraca perdagangan, Josua memproyeksikan masih akan mengalami surplus. Namun, surplus neraca perdagangan September 2026 akan menyempit dibandingkan bulan sebelumnya.

Kami memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 masih mencatat surplus sekitar US$1,79 miliar, tetapi menyempit cukup signifikan dibandingkan surplus US$3,55 miliar pada Agustus,”

katanya.

Josua menjelaskan, penyempitan surplus utamanya disebabkan oleh pertumbuhan impor yang diperkirakan jauh lebih cepat dibandingkan ekspor.

Ekspor September diperkirakan hanya tumbuh 9,39 persen secara tahunan, meningkat dari 6,72 persen pada Agustus. Hal didukung oleh harga komoditas yang masih relatif tinggi, terutama batu bara, serta permintaan dari China, India, dan Jepang.

Perbaikan aktivitas manufaktur di sejumlah negara mitra dagang juga mendukung permintaan ekspor Indonesia. Namun, impor diperkirakan meningkat lebih tinggi, yakni 23,07 persen secara tahunan, dibandingkan 19,09 persen pada Agustus,”

jelasnya.

Josua menjelaskan, kenaikan impor terutama didorong oleh tingginya harga minyak dunia yang memperbesar tagihan impor energi, serta meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal seiring pemulihan aktivitas manufaktur domestik.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro memperkirakan inflasi RI pada Oktober akan sebesar 0,19 persen secara mtm, dan secara tahunan inflasi diperkirakan sebesar 3,19 persen.

Hal ini seiring dengan meredanya inflasi kelompok harga pangan bergejolak (volatile food), sementara inflasi inti tetap terkendali dan harga yang diatur pemerintah mengalami penurunan tipis,”

ujar Andry dalam keterangannya.

Sedangkan untuk neraca perdagangan, Andry memperkirakan akan mencatat surplus yang lebih rendah sebesar US$2,25 miliar pada September 2026, dibandingkan US$3,55 miliar pada Agustus 2026.

Ekspor diperkirakan mencapai US$27,3 miliar, atau naik 2,5 persen secara bulanan mtm dan 10,6 persen secara tahunan. Sementara itu, impor diproyeksikan meningkat 8,6 persen secara bulanan menjadi US$25,0 miliar, dengan pertumbuhan tahunan yang masih tinggi sebesar 22,3 persen.

Penyempitan surplus terutama mencerminkan pemulihan impor setelah mengalami koreksi sebesar 11,6 persen secara bulanan pada Agustus 2026,”

imbuhnya.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.