Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Surplus Neraca Dagang RI Susut Jadi US$3,36 Miliar pada September 2026

Surplus nonmigas yang sebesar US$5,67 miliar disumbang oleh lemak minyak hewani dan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono (sumber: Owrite/Anisa Aulia)

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar US$3,36 miliar. Surplus itu tercatat melambat dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai US$3,55 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan surplus ini utamanya ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar US$5,67 miliar.

Pada September 2026 neraca perdagangan barang mengalami surplus sebesar US$3,36 miliar,”

ujar Ateng dalam konferensi pers Senin, 2 November 2026.

Penyumbang Suplus

Foto udara proses bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (30/4/2026). PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat kinerja positif 10 Terminal Peti Kemas (TPK) domestik pada Triwulan I 2026 yang mampu melampaui target 100 persen hingga Maret 2026 termasuk TPK Kendari dengan capaian 107,03 persen, meskipun industri logistik global menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi, gangguan rantai pasok, serta ketegangan geopolitik.
Foto udara proses bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (30/4/2026). PT Pelindo Terminal Petikemas mencatat kinerja positif 10 Terminal Peti Kemas (TPK) domestik pada Triwulan I 2026 yang mampu melampaui target 100 persen hingga Maret 2026 termasuk TPK Kendari dengan capaian 107,03 persen, meskipun industri logistik global menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi, gangguan rantai pasok, serta ketegangan geopolitik. (ANTARA FOTO/Andry Denisah/YU)

Ateng menuturkan, surplus nonmigas yang sebesar US$5,67 miliar disumbang oleh lemak minyak hewani dan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Iklan

Sedangkan neraca perdagangan migas, tercatat mengalami defisit sebesar US$2,31 miliar. Sebanyak dua komoditas tercatat sebagai penyumbang defisit utama yakni hasil minyak dan minyak mentah.

Adapun secara kumulatif, Ateng mengungkapkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$10,61 miliar pada periode Januari-September 2026.

Surplus sepanjang Januari-September 2026 terutama ditopang surplus pada komoditas nonmigas sebesar US$34,21 miliar. Sedangkan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$23,60 miliar,”

katanya.

Suplus Perdagangan Menyempit

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede. (Sumber: Owrite)
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede. (Sumber: Owrite)

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memproyeksikan surplus neraca perdagangan Indonesia akan menyempit dibandingkan bulan sebelumnya.

Kami memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 masih mencatat surplus sekitar US$1,79 miliar, tetapi menyempit cukup signifikan dibandingkan surplus US$3,55 miliar pada Agustus,”

kata Josua kepada Owrite.

Josua menjelaskan, penyempitan surplus utamanya disebabkan oleh pertumbuhan impor yang diperkirakan jauh lebih cepat dibandingkan ekspor.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.