Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Harga Minyak Dunia Naik Jadi US$105,25 per Barel, Imbas AS Serang Iran

Serangan itu memicu kekhawatiran akan meningkatnya konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan serta gangguan pasokan minyak.

Pengeboran Minyak Lepas Pantai. (Sumber: Unsplash/Arvind Vallabh)
Pengeboran Minyak Lepas Pantai. (Sumber: Unsplash/Arvind Vallabh)

Harga minyak dunia naik pada perdagangan awal di Asia pada Selasa, usai laporan Amerika Serikat (AS) menyerang Pulau Qeshm, Iran. Serangan itu memicu kekhawatiran akan meningkatnya konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan, serta gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak di Timur Tengah.

Dilansir dari CNBC pada Selasa, 3 November 2026 harga minyak mentah Brent naik 48 sen atau 0,5 persen menjadi US$105,25 per barel pada pukul 01.04 waktu setempat. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 47 sen atau 0,5 persen menjadi US$96,93 per barel.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup turun US$8,66 per barel atau 7,63 persen menjadi US$104,77 per barel pada Senin.

Iklan

Klaim Serangan Defensif

Serangan Rahasia Kilang Minyak Iran
Serangan Rahasia Kilang Minyak Iran (Foto: x.com)

Wall Street Journal melaporkan, dengan mengutip sejumlah pejabat AS, bahwa AS telah menyerang Pulau Qeshm, Iran. Beberapa pejabat menyebut serangan tersebut bersifat defensif, dengan tujuan mencegah Iran memiliki keleluasaan untuk menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.

“Laporan tersebut kembali menambahkan premi risiko ke dalam harga minyak. Tepat ketika pasar mulai memperhitungkan jalur yang lebih diplomatis, pengingat akan aktivitas militer yang sedang berlangsung ini telah mengubah suasana,”

kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade.

Sementara itu, Teheran menyatakan pada Senin bahwa komunikasi antara Iran dan AS untuk mengakhiri perang masih terus berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pembicaraan Iran dengan para mediator dari Qatar selama beberapa hari berakhir dengan sejumlah perubahan proposal, tetapi belum menghasilkan terobosan.

Kesepakatan Masih Mungkin Tercapai

Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, (Foto: AI).
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, (Foto: AI).

Trump pada Senin mengemukakan keraguan mengenai apakah ia akan menindaklanjuti ancamannya untuk kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran. Dia mengatakan kesepakatan dengan Teheran masih mungkin tercapai.

Konflik AS-Iran yang dimulai pada akhir Februari telah secara drastis mengurangi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz, yang sebelumnya mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam global.

Perang di Iran menjadi salah satu penyebab utama tingginya harga bensin yang membebani para pemilih. Kondisi ini membuat Trump berada di bawah tekanan untuk mengakhiri konflik tersebut.

Harga minyak Brent pada akhir Oktober mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir akibat kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat kembali memanas, setelah pemilihan sela AS pada hari Selasa.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei telah memberikan wewenang tertentu kepada pemerintah untuk melakukan perundingan damai.

Selain itu, AS akan mempertemukan delegasi dari Ukraina dan Rusia di Abu Dhabi pada 10-11 November untuk membahas penghentian perang Moskow terhadap Ukraina, perjanjian keamanan pasca-perang, dan de-eskalasi.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.