Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

IMF Bongkar 5 Ancaman Berat Ekonomi Dunia, Biaya Hidup hingga Utang Menggunung

IMF mengidentifikasi lima tantangan berat yang dihadapi perekonomian dunia, dari tingginya biaya hidup, beban utang besar, hingga AI.

Tumpukan uang rupiah dari tabungan masyarakat. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)
Tumpukan uang rupiah dari tabungan masyarakat. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)

Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) mengidentifikasi lima tantangan berat yang dihadapi perekonomian dunia. Sejumlah tantangan itu mulai dari tingginya biaya hidup, besarnya beban utang pemerintah, hingga kecerdasan buatan.

Berbagai persoalan tersebut menjadi sorotan IMF dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2026.

“Tingginya biaya hidup, meningkatnya tingkat utang, serta berbagai tantangan dalam pengembangan AI hanyalah sebagian dari persoalan pelik yang dihadapi perekonomian global,”

tulis Instagram @worldeconomicforum dikutip Rabu, 4 November 2026.

Biaya Hidup Tinggi dan Meningkat

Konsumen saat sedang berbelanja di Superindo. (Sumber: Owrite/Dusep)
Konsumen saat sedang berbelanja di Superindo. (Sumber: Owrite/Dusep)

Permasalahan pertama yang disorot adalah biaya hidup yang masih tinggi dan terus meningkat. Meskipun inflasi telah melambat, namun harga barang dan jasa belum mengalami penurunan.

Iklan

IMF memproyeksikan, inflasi naik dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 4,7 persen di 2026, sebelum kembali melandai menjadi 4,1 persen pada 2027. Kenaikan inflasi pada tahun ini terutama didorong oleh meningkatnya harga energi dan pangan.

Adapun dalam survei terbaru World Economic Forum (WEF) terhadap para kepala ekonom, sebanyak 88 persen memperkirakan biaya pangan akan meningkat dalam satu tahun ke depan. Sementara itu, 83 persen memperkirakan hal serupa akan terjadi pada biaya energi.

“Kondisi ini akan memberikan dampak paling berat terhadap rumah tangga berpendapatan rendah,”

katanya.

Tarif Perdagangan AS

Kedua, tantangan akan berasal dari kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat (AS) yang telah mengganggu aktivitas perdagangan internasional. Sebanyak 77 persen kepala ekonom memperkirakan perekonomian global akan semakin terfragmentasi dalam satu tahun ke depan.

Namun, sekitar dua pertiga responden memperkirakan volume perdagangan akan meningkat seiring dengan upaya dunia usaha beradaptasi terhadap perubahan tersebut.

Tumpukan Peti Kemas diatas Kapal Kargo ke China. (Sumber: Unsplash/Eilis Garvey)
Tumpukan Peti Kemas diatas Kapal Kargo ke China. (Sumber: Unsplash/Eilis Garvey)

Utang Membengkak

Keiga, pemerintah dibebani utang yang semakin besar. Menurut IMF belanja pemerintah terus meningkat seiring dengan bertambahnya pengeluaran negara untuk sektor pertahanan, layanan kesehatan, serta kebutuhan populasi yang semakin menua.

Sebanyak 69 persen kepala ekonom menilai dukungan fiskal telah membantu menjaga stabilitas perekonomian global. Namun, hanya 28 persen yang menganggap dukungan fiskal akan menjadi sumber ketahanan ekonomi utama pada masa mendatang.

Kondisi tersebut mencerminkan semakin terbatasnya ruang fiskal pemerintah ketika tekanan terhadap keuangan publik meningkat.

Biaya Pinjaman Pemerintah Naik

Keempat, meningkatnya biaya pinjaman pemerintah. Selama ini pemerintah menerbitkan obligasi atau surat utang untuk memperoleh pembiayaan dengan memberikan imbal hasil kepada investor.

Namun, investor kini menuntut tingkat imbal hasil yang lebih tinggi atas dana yang mereka investasikan. Sehingga, kondisi ini turut meningkatkan biaya pinjaman pemerintah.

“Akibatnya, negara harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk membayar bunga utang dan mengurangi anggaran yang tersedia untuk layanan publik serta pembangunan infrastruktur,”

tulisnya.

AI Mengubah Ekonomi

Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence
Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (Foto: Magnific)

Sedangkan kelima, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berpotensi mengubah ekonomi, namun prosesnya diperkirakan tidak akan mulus.

Sebanyak 97 persen kepala ekonom memperkirakan adopsi AI akan meningkat dalam satu tahun ke depan. Sementara itu, 69 persen memperkirakan AI akan memberikan peningkatan produktivitas yang signifikan.

Namun, 61 persen responden tidak memperkirakan pembangunan pusat data AI akan menciptakan pertumbuhan lapangan kerja yang signifikan. Selain itu, 79 persen memperingatkan pembangunan pusat data berpotensi menghadapi penolakan dari masyarakat setempat akibat kebutuhan air dan energi yang besar.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.