Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 sebesar 5,23 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan itu melambat dibandingkan kuartal II-2026 yang sebesar 5,29 persen yoy.
Josua mengatakan, melambatnya laju pertumbuhan itu sejalan dengan melemahnya permintaan domestik, meskipun konsumsi rumah tangga tetap tangguh.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 diperkirakan sedikit melambat menjadi 5,23 persen yoy atau 1,37 persen qoq, dibandingkan dengan 5,29 persen yoy atau 3,73 persen qoq pada kuartal II-2026,”
kata Josua saat dihubungi Owrite Kamis, 5 November 2026.
Konsumsi Diprediksi Jadi Pendorong Utama
Konsumen saat sedang berbelanja di Superindo. (Sumber: Owrite/Dusep)
Josua mengatakan, konsumsi rumah tangga akan tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal III, dengan laju pertumbuhan yang berpotensi meningkat seiring dengan berbagai kebijakan stimulus pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.
Iklan
Kondisi ini juga mencerminkan semakin besarnya peran kebijakan fiskal sebagai instrumen peredam guncangan ekonomi (shock absorber),”
tuturnya.
Sementara itu, pertumbuhan belanja pemerintah diperkirakan kehilangan momentum pada kuartal III-2026, seiring dengan upaya pemerintah menjaga keseimbangan antara kapasitas fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan untuk meredam dampak berbagai sumber ketidakpastian.
Pertumbuhan investasi juga diproyeksikan melambat, antara lain akibat semakin terbatasnya ruang fiskal yang berpotensi menekan belanja modal pemerintah,”
tuturnya.
Pertumbuhan 2026 Lebih Tinggi dari 2025
Kendati demikian, Josua menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ia memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap di kisaran 5,2 persen hingga 5,4 persen.
Kami mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 5,2–5,4 persen lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan sebesar 5,11 persen pada 2025,”
katanya.
Josua menuturkan, pertumbuhan ini akan ditopang oleh ketahanan konsumsi rumah tangga, serta meningkatnya peran pemerintah dalam mendorong aktivitas ekonomi melalui kebijakan fiskal dan intervensi pemerintah.
Namun, skenario pertumbuhan yang lebih tinggi dapat terwujud apabila ketegangan geopolitik mereda, kondisi perdagangan global membaik, serta reformasi struktural berhasil mendorong peningkatan partisipasi dan investasi sektor swasta melalui berbagai inisiatif yang diprakarsai pemerintah.
Secara keseluruhan, risiko terhadap prospek pertumbuhan ekonomi masih cenderung mengarah ke bawah (downside risks). Apabila kerentanan eksternal semakin meningkat dan fleksibilitas fiskal terus melemah, ruang pemerintah untuk mempertahankan berbagai kebijakan pendukung pertumbuhan ekonomi akan semakin terbatas,”
katanya.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara bersama ketiga Wamenkeu dalam konferensi pers APBN KiTA (sumber: Owrite/Anisa Aulia)
Proyeksi Ekonomi 2027
Lebih lanjut, Josua memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan akan melambat. Perlambatan tersebut mencerminkan kombinasi ketidakpastian global yang masih tinggi, kondisi moneter internasional yang relatif ketat, serta potensi dampak ekonomi dari fenomena El Nino.
Memasuki 2027, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sedikit melambat ke kisaran 5,2–5,3 persen,”
ujarnya.
Dari sisi domestik, Josua menilai ruang untuk memberikan tambahan stimulus fiskal juga akan semakin terbatas. Menurutnya, kebijakan fiskal ke depan perlu semakin diarahkan untuk memperkuat ketahanan dan menjaga stabilitas ekonomi, alih-alih terus menjadi sumber tambahan dorongan pertumbuhan.
Oleh karena itu, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi akan semakin bergantung pada peningkatan investasi sektor swasta, perbaikan produktivitas, serta efektivitas implementasi reformasi struktural,”