Harga minyak mentah terus merosot pada perdagangan Kamis, menyusul penurunan tajam sebesar 9 persen pada sesi sebelumnya. Penurunan terjadi seiring pasar mencermati dampak kemenangan telak Partai Demokrat AS atas Partai Republik dalam pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS).
Dilansir dari Economic Times pada Kamis, 5 November 2026, harga minyak mentah Brent turun lebih dari 1 persen atau US$1,05 menjadi US$93,51 per barel. Sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 1,35 persen menjadi US$87 per barel.
Pada sesi sebelumnya, kontrak berjangka Brent ditutup turun US$8,98, atau 8,7 persen menjadi US$94,62 per barel. Sementara harga minyak mentah WTI turun US$7,97 atau 8,3 persen menjadi U$88,12. Kedua patokan harga tersebut ditutup pada Rabu di level terendah sejak 31 Agustus.
Iklan
Harapan Perang Berakhir
Hasil Pemilu Sela AS hingga pukul 14.58 WIB. (Sumber: Associated Press)
Kekalahan politik tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa tekanan yang semakin besar terhadap Partai Republik dapat mendorong pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran melalui penyelesaian yang dinegosiasikan.
Dalam sebuah postingan panjang setelah kekalahan pemilu tersebut, Wakil Presiden JD Vance mengakui bahwa ketidakpuasan pemilih terhadap perang dan hubungan AS-Israel telah berkontribusi pada kinerja buruk Partai Republik. Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer, seorang anggota Partai Demokrat, juga berjanji untuk segera mengakhiri perang tersebut.
Untuk itu, Trump kini dihadapkan pada pilihan antara mengupayakan penyelesaian konflik melalui negosiasi atau mengambil risiko eskalasi lebih lanjut.
Dengan Partai Demokrat berhasil menguasai DPR dan Senat AS, pemerintahan Trump yang semakin melemah berpotensi menghadapi lebih banyak kendala dalam menentukan opsi militer. Kondisi ini meningkatkan dorongan untuk mencapai kesepakatan guna mengakhiri perang.
Reuters melaporkan, mengutip dua sumber yang dekat dengan lingkaran pemerintahan negara-negara Teluk, bahwa serangan besar-besaran terhadap Iran kini tampak semakin kecil kemungkinannya.
Namun, para analis di kawasan Teluk memperingatkan bahwa penyelesaian yang memungkinkan Iran mengklaim kemenangan yang jelas, sekaligus melemahkan posisi politik Trump dapat memicu tindakan nekat lebih lanjut, alih-alih membawa pengendalian diri.
Trump mengatakan kepada Financial Times pada Selasa bahwa AS tidak memiliki rencana segera untuk menyerang Iran. Pada Rabu, ia juga mengakui perang tersebut telah berkontribusi pada kekalahan telak partainya dalam pemilihan sela, di mana Partai Demokrat berhasil menguasai kedua kamar Kongres.
Permusuhan Iran-AS Terus Berlanjut
Pasukan Houthi mengangkat senjata. (jiss.org.il)
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei mengatakan dalam pernyataan tertulis bahwa permusuhan AS terhadap Iran akan terus berlanjut terlepas dari partai politik mana pun yang berkuasa di Washington.
Kelompok Houthi di Yaman juga mengklaim, telah menyerang Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh, meskipun pihak berwenang Saudi tidak mengonfirmasi serangan tersebut.
Sedangkan Qatar telah meningkatkan upaya mediasinya untuk mencegah eskalasi serangan kembali terjadi setelah pemilu AS. Meski demikian, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Selasa bahwa Teheran dan Washington masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Secara terpisah, Uni Emirat Arab (UEA) juga tengah mempertimbangkan pembangunan jaringan pipa minyak ketiga untuk mengangkut minyak mentah ke luar Selat Hormuz. Bloomberg melaporkan hal tersebut dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
Rencana pembangunan pipa tersebut merupakan bagian dari upaya UEA untuk mengurangi secara signifikan ketergantungannya terhadap jalur perairan strategis tersebut.