Seorang warga berdiri di depan rumahnya usai menjemur pakaian di Kampung Pemulung Cikiwul, Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. (Sumber: Antara Foto/Darryl Ramadhan/tom)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,47 persen secara year on year (yoy). Namun, capaian itu dinilai tidak sejalan dengan banyaknya keluhan masyarakat yang masih menghadapi kesulitan ekonomi.
Deputi Bidang Neraca dan Analis Statistik BPS, Edy Mahmud mengatakan angka 5,47 persen merupakan potret pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Ia menduga, masyarakat yang masih merasakan kesulitan ekonomi karena mereka tidak berada di sektor yang mengalami pertumbuhan tinggi.
Bisa saja orang-orang yang tidak merasa tumbuh itu memang tidak berada pada sektor-sektor yang tumbuhnya cukup tinggi, jadi tidak merasakan bahwa memang betul tumbuh. Setiap dari kita kadang-kadang merasakan hanya apa yang kita rasakan, tapi tidak merasakan apa yang tidak dirasakan orang lain,”
kata Edy dalam konferensi pers dikutip Jumat, 6 Oktober 2026.
Pertumbuhan Ekonomi Tak Merata
Calon pembeli memilih pakaian bekas yang dijual di salah satu toko di Kota Serang, Banten, Kamis (6/11/2025). (ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/nz)
Edy menilai, terkait apa yang ramai dibicarakan di media sosial seringkali merupakan kejadian pada kelompok tertentu atau di wilayah tertentu. Menurutnya, di antara 280 juta penduduk Indonesia, pasti ada yang merasakan tekanan ekonomi.
Iklan
Sementara apa yang kita baca di sosial media adalah kejadian pada kelompok tertentu atau wilayah tertentu, tentunya di antara 280 juta penduduk Indonesia pasti masih ada yang mengalami tekanan ekonomi. Namun, untuk mengetahui lebih detail diperlukan analisis dengan data yang lebih spesifik lagi,”
katanya.
Adapun BPS mencatat, dari sisi lapangan usaha ada empat sektor utama yang mendorong pertumbuhan pada kuartal III-2026. Hal itu diantaranya industri pengolahan sebesar 1,20 persen, perdagangan sebesar 0,94 persen, konstruksi 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi sebesar 0,49 persen.
Sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 5,87 persen, atau di atas angka pertumbuhan ekonomi nasional yang didorong oleh permintaan domestik dan luar negeri.
Jika kita rinci menurut subsektor, terlihat bahwa kinerja positif sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh kinerja industri makanan dan minuman yang tumbuh hingga 7,09 persen; industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang tumbuh 8,10 persen; dan industri logam dasar yang tumbuh 9,94 persen,”
jelas Edy.
Sektor Otomotif Tetap Tumbuh
PT BYD Motor Indonesia perkuat kehadirannya di pasar kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) melalui GIIAS Semarang 2026. (Foto: Istimewa).
Sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh mencapai 7,14 persen, atau lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 yang sebesar 5,46 persen dan kuartal III-2024 sebesar 4,85 persen, seiring meningkatnya aktivitas perdagangan.
Ia menjelaskan, pertumbuhan pada sektor ini didorong oleh peningkatan penjualan kendaraan bermotor terutama kendaraan niaga dan kendaraan listrik, serta peningkatan suplai barang domestik khususnya barang industri pengolahan dan barang impor.
Sementara itu, sektor konstruksi mampu tumbuh 6,42 persen atau lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 yang sebesar 4,21 persen. Kenaikan ini terutama didorong oleh pembangunan proyek infrastruktur oleh pemerintah dan swasta, termasuk pembangunan program prioritas pemerintah seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), perumahan rakyat, sekolah rakyat, sekolah garuda, dan revitalisasi sekolah.
Selanjutnya, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 7,13 persen. Hal ini sejalan dengan peningkatan aktivitas telekomunikasi seperti peningkatan traffic data, penggunaan layanan data center, dan peningkatan transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).