Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Ekonomi Bisnis

Tabungan Orang Kaya Tumbuh Double Digit, Kok Kelas Menengah Malah Makan Tabungan?

Kelompok kelas menengah memiliki pendapatan yang relatif cukup tinggi, tapi pertumbuhan itu belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup.

Ilustrasi Tabungan. (Sumber: Unsplash/Towfiqu barbhuiya)
Ilustrasi Tabungan. (Sumber: Unsplash/Towfiqu barbhuiya)

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, tabungan di atas Rp5 miliar tumbuh sebesar 11,91 persen per September 2026. Namun, kondisi berbeda terjadi pada simpanan kelompok menengah yang mulai menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya hidup.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai simpanan di atas Rp5 miliar tidak mencerminkan tabungan orang kaya secara individual. Sebab, simpanan jumbo itu juga mencakup rekening korporasi swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta berbagai lembaga.

“Simpanan di atas Rp5 miliar tidak identik dengan tabungan orang kaya secara individual. Kelompok ini juga mencakup rekening korporasi swasta, BUMN, dan berbagai lembaga,”

kata Yusuf kepada Owrite Minggu, 8 November 2026.

Tabungan Korporasi dan BUMN

Tumpukan uang rupiah dari tabungan masyarakat. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)
Tumpukan uang rupiah dari tabungan masyarakat. (Sumber: Unsplash/Mufid Majnun)

Yusuf mengatakan, data LPS mencatat porsi simpanan dengan bunga di atas tingkat bunga penjaminan meningkat dari 34 persen pada Agustus menjadi 36,06 persen pada September. Peningkatan itu utamanya berasal dari korporasi swasta dan BUMN.

Iklan

“Jadi, pertumbuhan simpanan sebesar 11,91 persen lebih banyak mencerminkan penempatan dana besar yang memperoleh bunga hasil negosiasi khusus ketika bank sedang bersaing mendapatkan likuiditas,”

jelasnya.

Selain itu, Yusuf menuturkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi juga mendorong korporasi dan kelompok berpendapatan tinggi untuk menempatkan dana pada instrumen yang lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik.

Ia menjelaskan, faktor yang mendorong korporasi dan kelompok berpendapatan tinggi untuk berjaga-jaga adalah ketika rupiah kembali menembus Rp18.000 per dolar AS, gejolak di pasar saham, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

“Korporasi serta kelompok berpendapatan tinggi cenderung menempatkan dananya pada deposito yang lebih aman dan menawarkan imbal hasil menarik. Pilihan ini rasional dari sisi pengelolaan risiko, tetapi juga menjadi sinyal bahwa sebagian rencana ekspansi dan investasi sedang ditunda sambil menunggu kondisi lebih pasti,”

katanya.

Kemudian naiknya tabungan di atas Rp5 miliar bisa disebabkan oleh perpindahan kelompok, ketika saldo nasabah bertambah dan melewati batas Rp5 miliar. Sehingga, pertumbuhan pada kelompok tertinggi terlihat lebih besar.

Kelas Menengah Makan Tabungan

Ilustrasi seorang pengusaha yang marah dan kecewa dengan laporan keuangan perusahaan sedang memarahi karyawan yang duduk di meja dalam ruang rapat. (Sumber: Unsplash/Vitaly Gariev)
Ilustrasi seorang pengusaha yang marah dan kecewa dengan laporan keuangan perusahaan sedang memarahi karyawan yang duduk di meja dalam ruang rapat. (Sumber: Unsplash/Vitaly Gariev)

Sementara itu, Yusuf mengatakan di tengah pertumbuhan simpanan jumbo yang double digit, kondisi kelas menengah dan bawah justru lebih beragam. Simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 7,15 persen, kelompok Rp100 juta hingga Rp200 juta tumbuh 5,8 persen, kelompok Rp200 juta sampai Rp500 juta naik 4,21 persen.

Sedangkan untuk simpanan kelompok menengah hanya tumbuh di kisaran 2 persen hingga 3 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan berada pada kelas menengah.

“Pola ini menunjukkan bahwa tekanan paling nyata bukan berada pada kelompok simpanan terendah, melainkan pada kelas menengah,”

jelasnya.

Yusuf menjelaskan, bila dibandingkan dengan inflasi Oktober sebesar 3,23 persen dan inflasi pangan 4,82 persen. Pertumbuhan simpanan sejumlah kelompok menengah tercatat stagnan atau menurun secara riil.

“Ini konsisten dengan kondisi ketika sebagian rumah tangga mulai menggunakan tabungan untuk menutup kebutuhan sehari-hari,”

ucapnya.

Yusuf menuturkan, kelompok kelas menengah memiliki pendapatan yang relatif cukup tinggi sehingga, tidak sepenuhnya tercakup dalam bantuan sosial. Namun, pertumbuhan pendapatan tersebut belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup.

“Pendapatan mereka masih cukup tinggi sehingga tidak sepenuhnya tercakup bantuan sosial, tetapi pertumbuhannya belum mampu mengimbangi kenaikan biaya hidup,”

katanya.

Daya Beli Masyarakat Terpolarisasi

Ilustrasi Rupiah dan Pendapatan. (Sumber: Unsplash/ Defrino Maasy)
Ilustrasi Rupiah dan Pendapatan. (Sumber: Unsplash/ Defrino Maasy)

Di samping itu, Yusuf menilai simpanan di bawah Rp100 juta perlu dibaca secara hati-hati. Sebab, pemerintah menyalurkan bantuan pada Oktober hingga Desember melalui pembukaan rekening, bantuan pangan, dan bantuan subsidi upah.

Menurutnya, penyaluran melalui perbankan akan meningkatkan saldo rekening kecil untuk sementara, namun belum tentu menunjukkan peningkatan kemampuan menabung yang berkelanjutan.

“Untuk membedakannya, perlu dilihat apakah kenaikan saldo tersebut bertahan setelah periode penyaluran bantuan selesai,”

katanya.

Lebih lanjut Yusuf mengatakan, saat ini kondisi daya beli masyarakat lebih menunjukkan polarisasi dibandingkan pelemahan secara menyeluruh. Sebab, indikator agregat masih cukup positif dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September sebesar 118,1 dan PMI manufaktur Oktober pada level 54,0.

“Namun, angka tersebut belum sepenuhnya menangkap penyempitan ruang menabung kelas menengah akibat pendapatan yang tertinggal dari kenaikan harga pangan dan tekanan nilai tukar,”

ujarnya.

Untuk itu, Yusuf menilai kondisi tersebut perlu diwaspadai mengingat kelas menengah merupakan salah satu penopang utama konsumsi domestik.

“Kondisi ini perlu diwaspadai karena kelas menengah merupakan penopang utama konsumsi. Selama masih memiliki tabungan, mereka dapat mempertahankan belanja meskipun pendapatan riil melemah. Namun, jika tabungan terus digunakan untuk membiayai kebutuhan rutin, konsumsi berpotensi melambat setelah bantalan tersebut menipis,”

tekannya.

Menurut Yusuf, kebijakan yang dibutuhkan tidak cukup hanya berupa bantuan sosial untuk kelompok bawah. Daya beli masyarakat kelas menengah juga perlu dilindungi melalui stabilisasi harga pangan, penciptaan pekerjaan formal dengan upah yang tumbuh di atas inflasi, serta insentif pajak yang benar-benar terarah.

Iklan

Topik terkait

Penulis dan penyunting

  • Reporter

    Anisa Aulia adalah jurnalis di OWRITE dengan pengalaman lebih dari 4 tahun di VIVA.co.id dan Liputan6.com. Selama karirinya meliput ekonomi

  • Redaktur

    Seorang senior editor di OWRITE Media, yang fokus pada pemberitaan seputar Bisnis, Ekonomi, Politik dan Peristiwa.