Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga hasil korupsi kuota haji ikut mengalir ke pejabat yang ada di Kementerian Agama (Kemenag). Uang tersebut diberikan kepada para Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) atau biro travel kemudian disetorkan ke pihak Kemenag.
Penyidik juga mendalami terkait dengan aliran-aliran uang dari para PIHK atau biro travel haji ini kepada oknum-oknum di Kementerian Agama atas pengelolaan atau jual beli kuota haji yang dilakukan oleh para biro travel itu,”
ungkap Jubir KPK, Budi Prasetyo kepada wartawan, Rabu 17 Desember 2025.
Pemberian kuota haji tambahan awalanya diberikan dari pemerintah Arab Saudi, tujuannya untuk mengurangi antrean calon jemaah yang ingin beribadah ke tanah suci. Disini Kemenag yang mengelola soal mekanisme kuota haji tambahan tersebut.
Bila merujuk pada Undang-Undang Nomor 8 tahun 2019, spliting pembagian haji masing-masing sebesar 92 persen untuk ibadah haji reguler dan 8 persen untuk ibadah haji khusus. Nyatanya, pembagian kuota haji tersebut malah menjadi masing 50 persen atau 10.000 kuota untuk haji reguler dan khusus.






