Ketua Indonesia RISK Centre Julius Ibrani menyoroti kematian prajurit TNI AU Serda Ahmad Muzammil yang diduga korban penganiayaan empat seniornya di Mess Psikologi Galaksi, Komplek Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Terduga pelaku kini telah ditahan. Julius menilai kematian Muzammil menunjukkan persoalan dalam kultur dan sistem pendidikan di tubuh TNI.

“Kejadian yang berulang menunjukkan mekanisme dan sistem yang bermasalah di dalam organisasi TNI. Mulai dari sistem pelatihan, pendidikan, pengawasan, penghukuman dan cara pandang yang keliru dalam melihat senioritas dan junioritas,”

kata Julius dalam pernyataan tertulis, dikutip pada Selasa, 15 September 2026.

Bobrok

Persoalan tersebut berkaitan dengan kultur yang keliru dan terbentuk dari kebiasaan di lingkungan TNI. Sistem pelatihan dan pendidikan dinilai belum sepenuhnya mampu membangun karakter militer yang profesional. Maka, koalisi masyarakat sipil mendorong perbaikan materi dan metode dalam sistem pendidikan dan pelatihan prajurit.

“Sejak awal para prajurit perlu diberi cara pandang yang benar, bahwa militer yang profesional adalah militer yang menghormati hukum, konstitusi dan HAM,”

ucap Julius.

Dia menegaskan kekerasan berlebihan tidak dapat dibenarkan sebagai metode untuk membangun kedisiplinan prajurit.

“Kami memandang bahwa cara berpikir membangun disiplin dengan melakukan kekerasan berlebihan sepatutnya ditinggalkan. Disiplin dibangun dalam metode pengajaran yang menempatkan militer profesional yang menghormati negara hukum dan HAM,”

ujar Julius.

Permulaan

Serda Ahmad Muzammil Farisa diminta oleh seniornya di barak untuk membelikan mi. Namun, terjadi kekeliruan yaitu Ahmad diminta membeli mi kuah, tetapi ia malah membawa mi goreng. Akibat kesalahan sepele itu, empat seniornya emosi dan mulai menganiaya si junior.

Usai mendapatkan penganiayaan, Ahmad disebut tak sadarkan diri. Kemudian dibawa ke RSAU Esnawan Antariksa guna mendapatkan penanganan medis. Pertolongan tak berhasil, Ahmad akhirnya meregang nyawa.

Berdasar informasi yang diterima oleh ayah almarhum, Toni Eko Prasetyo, anaknya dianiaya dua kali yakni pada 9 September sekira pukul 23.oo dan 10 September sekira pukul 03.00. Pukul 4 pagi, rekan almarhum menghubungi Toni untuk memberitahukan bahwa Ahmad meninggal karena alasan kecelakaan. Namun, rekan lain Ahmad menginformasikan kalau penyebab kematian ialah penganiayaan oleh senior.

Ahmad merupakan prajurit asal Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, Jawa Timur. Keluarga juga mendapat informasi terdapat luka pada dada dan wajah almarhum. Kini POMAU tengah mengusut perkara tersebut.