Pengakuan Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI), Islah Bahrawi, soal dugaan penguntitan kembali mencuat.
Ia mengaku aktivitas pengawasan terhadap dirinya masih berlangsung dan disebut terjadi hampir di setiap pergerakannya. Namun alih-alih mundur atau membatasi aktivitas, Islah justru menantang pihak yang diduga menguntitnya untuk terus mencari tahu siapa yang ditemui dan kegiatan apa yang dilakukannya.
Penguntitan ini masih terus berlangsung. Kemana pun saya pergi, mereka selalu ngintai. Tidak tahu tujuannya apa,”
kata Islah yang dikutip dari akun X pribadinya, Rabu, 16 September 2026.
Islah menambahkan, dirinya tidak lagi terlalu mempedulikan pengawasan tersebut. Ia mempersilakan pihak yang mengikutinya untuk mengetahui aktivitasnya, termasuk orang-orang yang ditemuinya.
Tapi satu hal, saya sudah tidak peduli. Silakan cari tahu, saya bertemu siapa dan berkegiatan apa saja. Bodo amat!,”
tegasnya.
Meski demikian, Islah menyoroti cara pengawasan yang menurutnya justru dilakukan secara terang-terangan. Ia menyebut praktik intelijen semestinya berlangsung secara senyap, sehingga keberadaan pihak yang melakukan pengawasan tidak mudah diketahui.
Satu hal yang harus saya ingatkan: surveilance itu harusnya tidak boleh ketahuan. Intelijen itu senyap. Gak norak kayak gini,”
jelasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena Islah sebelumnya juga pernah mengungkap dugaan penguntitan terhadap dirinya dan keluarga.
Pantau Rumah
Pada Juni 2026, ia menyebut orang tidak dikenal memantau rumahnya, menggali informasi kepada tetangga, hingga membuntuti pergerakannya dalam perjalanan. Ia juga mengaku sampai mengevakuasi keluarganya karena merasa situasi tersebut mengancam keamanan.
Kini, ia mengaku penguntitan masih terjadi meski telah berlangsung cukup lama. Islah juga menyindir pihak yang menurutnya melakukan pengawasan secara terbuka dan mempertanyakan tujuan dari tindakan tersebut.
Kecuali kalian memang hanya mau numpang makan atas nama perintah atasan,”
tutup Islah.
Pengakuan Islah sebelumnya muncul di tengah aktivitasnya sebagai pengkritik sejumlah kebijakan pemerintah.
Ia juga pernah mendapat pesan agar tidak terlalu vokal bersuara mengenai Presiden Prabowo, berdasarkan cerita yang disampaikannya dalam konferensi pers pada Juni 2026.






