KPK mencatat ada puluhan layanan di Kementerian ATR/BPN yang harus dibenahi karena berpotensi menjadi ladang rasuah.
“Dalam kacamata pencegahan, setidaknya ada 57 jenis layanan di ATR/BPN tingkat Kantor Pertanahan, Kantor Wilayah, ataupun di (Kantor) Pusat,”
ucap Jubir KPK Budi Prasetyo kepada wartawan, Kamis, 17 September 2026.
Menurutnya, dalam kasus korupsi suap kepengurusan Hak Guna Bangunan (HGB) dan gratifikasi yang menjerat pejabat Kementerian ATR/BPN disebabkan tidak ada keterbukaan. Maka KPK mendorong perbaikan transparansi sektor layanan publik.
“Kami melihat mengapa korupsi ini bisa terjadi, karena proses mekanisme pelayanan publik itu tertutup, sehingga membuka ruang ada pungli, broker, bahkan suap-menyuap,”
kata Budi.
Duo
KPK mengungkap dua konstruksi besar dalam perkara yang menyeret anak buah Menteri ATR/BPN Nusron Wahid. Pada perkara pertama, Direktur Utama PT Summarecon Adrianto Pitojo Adi diduga menyuap Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor I Sontang Coin Manurung guna memuluskan penerbitan HGB yang sedang bersengketa dengan sejumlah ahli waris di lahan kawasan kabupaten Bogor.






