Dengan menggunakan situs ini, kamu menyetujui Kebijakan Privasi and Ketentuan Penggunaan OWRITE.
Accept
Senin, 23 Mar 2026
Linkbio
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum
  • Ekbis
  • WARGA SPILLNew
  • Lainnya
    • Hype
    • Internasional
    • Megapolitan
    • Daerah
Sign In
  •   ❍
  • Indeks Berita
  • Akun saya
  • Kirim Tulisan
  • KPK
  • Headline
  • Korupsi
  • Purbaya
  • Spill
  • DPR
  • Banjir
  • BMKG
  • sumatera
  • Prabowo Subianto
OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan DuniaOWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia
Font ResizerAa
  • Indeks Berita
  • Baca ulang
  • Koleksi
  • Eksplor
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Hype
  • Ekonomi Bisnis
  • Megapolitan
  • Olahraga
  • Daerah
Search
  • Warga SpillNew
  • Politik
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi Bisnis
  • Hype
  • Megapolitan
  • Daerah
  • Olahraga
  • Kelola Tulisan
  • Kirim Tulisan
  • Akun Saya
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
© 2025 PT. OWRITE Media Digital.
Home / Duh.. Banyak Gen Z Depresi karena Tekanan Sosial dan Politik Negara
Hype

Duh.. Banyak Gen Z Depresi karena Tekanan Sosial dan Politik Negara

Syifa FauziahAmin Suciady
Last updated: Desember 18, 2025 3:28 pm
Syifa Fauziah
Amin Suciady
Share
Gambar ilustrasi
Sumber foto: Freepik
SHARE

Baru-baru ini ramai di media sosial terkait kabar Gen Z yang banyak mengalami depresi. Menariknya, depresi yang dialami Gen Z ini bukan karena masalah pribadi, melainkan urusan negara.

Daftar isi Konten
  • Dampak Ketimpangan Sosial dan Ekonomi
  • Saring Informasi

Psikolog Meity Arianty membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, kondisi kesehatan mental Gen Z saat ini dipengaruhi oleh tekanan sosial dan politik yang berkembang, bukan hanya masalah pribadi mereka. 

Secara teori, stres yang mereka alami seringkali berasal dari faktor eksternal, seperti ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, kekerasan di social media/cyber bullying dan ketidakstabilan politik, yang berpengaruh besar terhadap perasaan cemas dan pesimis mereka,”

ujar Meity kepada owrite, Kamis 18 Desember 2025.

Berdasarkan data riset, sambungnya, terdapat indikator bahwa proporsi besar Gen Z mengalami tekanan akibat faktor eksternal yang melampaui masalah pribadi semata.

Dampak Ketimpangan Sosial dan Ekonomi

Sebanyak 60 persen Gen Z merasa ketimpangan sosial dan ekonomi berdampak signifikan pada kehidupan mereka, yang menunjukkan hubungan antara tekanan struktural dengan kesejahteraan psikologis mereka. 

Data dari UNICEF menunjukkan bahwa sekitar 52 persen merasakan perasaan kewalahan oleh berita dan peristiwa di komunitas, negara, dan dunia secara keseluruhan, juga mengindikasikan peran isu makro dalam beban psikologis mereka,”

tuturnya.

Selain itu, survey profesional menunjukkan bahwa Gen Z secara proaktif melibatkan diri dalam isu‑isu sosial dan politik. Sebanyak 70 persen responden dalam laporan tertentu aktif dalam gerakan sosial dan politik.

Hal itu mencerminkan bahwa masalah struktural menjadi bagian dari kerangka pengalaman mereka dan berkorelasi dengan tekanan mental yang dirasakan,”

ucapnya.

Meity menambahkan, dalam beberapa tahun terakhir secara global dan juga di Indonesia, masalah mental pada Gen Z terjadi peningkatan. Studi literatur melaporkan tingginya prevalensi gejala kecemasan dan depresi di kelompok usia Gen Z di Indonesia, meskipun masih banyak kasus yang belum ditangani profesional. 

Jadi ini menunjukkan bahwa tren gangguan mental di kalangan Gen Z meningkat, dan bukan sekadar persepsi sesaat. Bahkan survei juga menunjukkan bahwa proporsi Gen Z yang melaporkan gejala kecemasan, depresi, dan stres tinggi secara konsisten lebih besar dibanding generasi tua pada usia yang sama, dan angka diagnosa kondisi kesehatan mental terus naik dari tahun ke tahun,”

paparnya.

Menurut Meity, data kenaikan angka depresi pada Gen Z ini karena mereka cenderung lebih terbuka untuk membicarakan masalah kesehatan mental mereka, namun banyak yang merasa terperangkap dalam ketegangan antara harapan pribadinya dengan realitas yang ada. 

Akibatnya, mereka lebih rentan terhadap stres, kecemasan, dan depresi, karena merasa tidak memiliki kendali atas kondisi sosial dan politik yang mempengaruhi kehidupan mereka sehari-hari,”

kata Meity

Data tersebut juga terlihat dari puskesmas dan rumah sakit yang sering menemui klien Gen Z yang melaporkan stres yang dipicu oleh kondisi sosial, politik, dan ekonomi Negara, meskipun sering kali masalah tersebut disampaikan dalam konteks pribadi. 

Meskipun mereka tidak selalu menyebutkan faktor-faktor ini secara eksplisit, Gen Z menunjukkan kecemasan terkait isu-isu makro ini yang semakin sering menjadi sumber stres. Hal ini menunjukkan bahwa faktor eksternal saat ini memainkan peran yang lebih besar dalam kesehatan mental generasi ini dibandingkan sebelumnya,”

tambahnya. 

Saring Informasi

Untuk itu, Meity menyarankan kepada Gen Z untuk ‘menyaring Informasi dan batasi paparan terhadap berita negatif yang berlebihan. Pastikan sumber yang seimbang dan memberikan perspektif positif serta solusi, bukan hanya fokus pada krisis. 

Latihan mindfulness dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi kecemasan. Teknik ini mengajarkan untuk fokus pada saat ini dan menerima perasaan tanpa menghakimi, sehingga membantu meredakan stres,”

ucapnya.

Selain itu, fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti rutinitas harian, kebiasaan sehat, atau keterlibatan dalam komunitas dapat memberi rasa kendali yang mengurangi perasaan cemas. Jika stres menjadi berat, berbicara kepada psikolog dapat memberikan ruang untuk mengekspresikan perasaan dan mendapatkan dukungan profesional. Membina hubungan dengan teman, keluarga, atau kelompok komunitas dapat memberikan rasa aman dan dukungan emosional. 

Tak hanya itu, penting juga berbagi pengalaman dengan orang lain, karena seringkali dapat membantu melihat masalah dari perspektif yang lebih luas dan menemukan solusi bersama. Mengambil bagian dalam perubahan sosial, dapat memberikan rasa tujuan dan mengurangi perasaan pasif terhadap masalah yang ada. 

Terlibat dalam kegiatan yang memberi kontribusi positif sering kali memberikan rasa kontrol dan kepuasan. Berolahraga dan Istirahat, sebab akan memiliki efek positif terhadap kesehatan mental. Aktivitas ini membantu tubuh mengelola stres secara fisiologis dan meningkatkan mood,” tutupnya,”

tandasnya.
Tag:DepresiEditorialgenz
Share This Article
Email Salin Tautan Print
Syifa Fauziah
BySyifa Fauziah
Reporter
Follow:
Seorang jurnalis di OWRITE Media, yang meliput pemberitaan seputar Gaya Hidup dan Entertainment.
Amin Suciady
ByAmin Suciady
Redaktur Pelaksana
Follow:
Redaktur Pelaksana di OWRITE Media, memiliki keahlian dalam komunikasi strategis, media relations, serta penyampaian informasi yang efektif.

BERITA TERKINI

Indeks berita
Ilustrasi penumpang yang akan berangkat menggunakan kereta
Nasional

Data Terbaru, Kereta Jadi Favorit Pemudik Lebaran 2026

Kementerian Perhubungan melalui Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026 mencatat jumlah penumpang angkutan umum pada hari H Lebaran, Sabtu 21 Maret 2026, mencapai 873.916 orang. Selain tingginya jumlah penumpang, arus…

By
Hadi Febriansyah
Ivan
3 Min Read
Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II di 104 lokasi di seluruh Indonesia
Nasional

Kementerian PU Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II di 104 Lokasi

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II, yang dilaksanakan di 104 lokasi di seluruh Indonesia. Langkah ini sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mendukung pemerataan akses pendidikan…

By
Iren Natania
Ivan
3 Min Read
Sejumlah kendaraan pemudik melaju perlahan saat penerapan sistem satu arah di Jalan Tol Trans Jawa ruas Semarang-Batang, Semarang, Jawa Tengah
Nasional

Antisipasi Kemacetan, Kakorlantas Imbau Pemudik Tak Pulang Bersamaan di Puncak Arus Balik 24 Maret

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Agus Suryo Nugroho, mengimbau masyarakat agar tidak kembali secara bersamaan pada 24 Maret 2026. Tanggal tersebut diprediksi menjadi puncak arus balik Lebaran yang berpotensi…

By
Hadi Febriansyah
Ivan
3 Min Read

BERITA LAINNYA

ilustrasi
Hype

20 Ucapan Hari Raya Nyepi 2026, Cocok Dibagikan Saat Hari Hening

Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 pada 2026 kembali menjadi…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
5 hari lalu
8 Spot Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh
Hype

Wajib Tahu! 8 Spot Terbaik Nonton Pawai Ogoh-Ogoh Jelang Hari Raya Nyepi 2026

Menjelang Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu di Bali diramaikan dengan tradisi pawai…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
5 hari lalu
Prediksi Puncak arus mudik kereta api
Hype

Penumpang Kereta di Daop 1 Jakarta Tembus 54 Ribu Jelang Lebaran 2026

Mobilitas masyarakat yang menggunakan kereta api di wilayah Daop 1 Jakarta terus…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
6 hari lalu
Hype

Resep Kue Kacang Renyah: Pilihan Favorit Keluarga untuk Hari Raya Idulfitri

Kue kacang menjadi salah satu sajian klasik yang hampir selalu hadir di…

Syifa FauziahIvan OWRITE
By
Syifa Fauziah
Ivan
6 hari lalu
OWRITE Logo 2x OWRITE Dark Background Logo 2x

Your Reading Dose, Right Here:
Tetap terhubung dengan berita terkini dan informasi terkini secara langsung. Dari politik dan teknologi hingga hiburan dan lainnya, kami menyediakan liputan langsung yang dapat Anda andalkan, menjadikan kami sumber berita tepercaya.

Info lainnya

  • Redaksi
  • Beriklan
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
FacebookLike
InstagramFollow
YoutubeSubscribe
TiktokFollow
© PT. OWRITE Media Digital. All Rights Reserved.
OWRITE Logo OWRITE Dark Background Logo 2x
Everything's gonna be owrite!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?

Not a member? Sign Up