Hajar Aswad merupakan batu hitam suci yang terletak di sudut tenggara Ka’bah di Masjidil Haram, Mekah.
Batu ini dipercaya berasal dari surga dan merupakan bagian penting dari ibadah haji dan umrah.
Para ilmuwan Elsebeth Thomsen dari University of Copenhagen melakukan penelitian untuk membuktikan mengenai asal muasal Hajat Aswad.
Banyak yang meyakini bahwa Hajar Aswad berasal dari luar angkasa, hal itu yang membuat para peneliti melakukan observasifisik.
Hasil dari penelitian itu ditulis dalam sebuah karya beriudul: New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba.
Dalam buku tersebut salah satu peneliti bernama Thomsen menemukan beberapa fakta menarik:
- Kemiripan dengan Kaca Impaksi
Thomsen mengemukakan bahwa Hajar Aswad memiliki karakteristik yang serupa dengan kaca impaksi. Material ini terbentuk akibat hantaman meteorit besar ke permukaan bumi yang menghasilkan panas luar biasa.
- Kaitan dengan Kawah Wabar
Penelitian ini menghubungkan Hajar Aswad dengan Kawah Wabar di gurun Rub’ al Khali, Arab Saudi. Kawah ini ditemukan oleh penjelajah Inggris Harry St, John Philby pada 1932.
Berdasarkan penelitian EI Goresy et al. (1968), material di kawah tersebut berupa kaca hasil lelehan pasir silika yang memiliki permukaan hitam mengkilap namun bagian dalam yang putih berpori.
- Sifat Fisik yang Unik
Menurut penjelasan Dietz dan McHone (1974), Hajar Aswad saat ini terdiri dari delapan potongan kecil yang disatukan dalam bingkai perak.
Beberapa ciri fisiknya antara lain, berwarna hitam berkilau di luar, namun putih seperti susu di bagian dalam.
Hajar Aswad juga dapat mengapung di air. Ciri ini yang jarang ditemukan pada batuan bumi biasa, namun identik dengan kaca impaksi yang memiliki rongga udara.
Asal Usul Hajar Aswad
Pada awalnya, Hajar Aswad merupakan salah satu batu yang ditemukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS, pada saat mereka sedang membangun Ka`bah.
Lima tahun sebelum diangkat sebagai Nabi dan Rasul, dilakukan pemugaran Ka`bah karena adanya beberapa kerusakan.
Pemugaran dilakukan berdasarkan kesepakatan para pemuka kabilah suku Quraisy yang ada di kota Mekah.
Dalam pemugaran itu terjadi perselisihan yang makin memuncak di antara tokoh masyarakat Quraisy saat menentukan siapa yang berhak untuk menempatkan kembali batu tersebut usai pemugaran.
Nabi Muhammad kemudian menjadi penengah, menghamparkan kainnya dan menempatkan Hajar Aswad di atas bentangan kain tersebut.
Rasulullah SAW meminta setiap pemuka kabilah Quraisy memegang masing-masing sudut dan sisi kain tersebut dan bersama-sama mengangkatnya untuk membawa Hajar Aswad ke tempatnya semula.
Hajar Aswad Batu Mulia
Dalam setiap ayat-ayatnya yang jelas dan kekal di dalamnya, Allah menunjukkan berbagai aneka rahasia yang besar.
Sebagian dari tanda-tanda yang tampak dan dapat dilihat secara kasat mata adalah batu mulia agung yang turun dari surga, Hajar Aswad.
Hajar Aswad adalah satu di antara batu mulia surga. Dahulu warnanya lebih putih dari susu namun seiring berjalannya waktu berubah menjadi hitam akibat dosa-dosa manusia. Batu itu ibarat ‘tangan kanan’ Allah SWT di muka bumi.
Saat umat muslim menjalankan ibadah Umroh dan Haji, mereka akan memulai tawaf dari Hajar Aswad dengan menyentuh dan menciumnya.
Menyentuh Hajar Aswad atau melakukan isyarat dengan tangan menjadi tanda dimulainya tawaf.
Hajar Aswad juga jadi tempat yang mustajab untuk berdoa. Tak heran bila para jamaah Haji dan Umroh rela berdesak-desakan demi memegang dan mencium Hajar Aswad
Antara Keyakinan dan Penelitian Ilmiah
Dalam sejarah Islam, Hajar Aswad dibawa oleh malaikat Jibril kepada Nabi Ibrahim AS untuk diletakkan di Ka’bah.
Batu ini kemudian kembali dipasang oleh Nabi Muhammad SAW saat renovasi bangunan suci tersebut. Hingga kini, mencium atau menyentuhnya menjadi bagian dari sunnah dalam ibadah tawaf.
Menariknya, keyakinan ini kini bersinggungan dengan hasil riset modern. Salah satu penelitian datang dari Elsebeth Thomsen, ilmuwan asal University of Copenhagen, dalam studinya “New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka’ba.”
Dari penelitian itu, Thomsen mendapati bahwa Hajar Aswad memiliki kemiripan dengan kaca impaksit, material yang terbentuk akibat tumbukan meteorit besar di permukaan bumi.
Batu ini bahkan dikaitkan dengan kawah Wabar di wilayah Rub’ al Khali, Arab Saudi, yang ditemukan penjelajah Inggris Harry St. John Philby pada tahun 1932.
Temuan ilmiah yang mengaitkan Hajar Aswad dengan meteorit Wabar dianggap memberi penjelasan ilmiah tanpa mengurangi nilai spiritualnya.
Kesamaan ciri fisik justru memperkuat pandangan bahwa batu ini memang bukan berasal dari bumi, melainkan benar-benar memiliki “jejak langit”.
