Psikolog Klinis Meity Arianty melihat kasus anak 10 tahun yang bunuh diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) bukan sekadar persoalan “buku yang tidak dibelikan”, melainkan sebuah manifestasi dari akumulasi distres psikologis yang sangat kompleks pada struktur kognitif anak usia 10 tahun.
Peristiwa pemicu berupa penolakan pembelian buku hanya “puncak gunung es” yang kemungkinan besar akrnya pada kondisi depresi terselubung, rasa ketidakberdayaan atau masalah pada ikatan kelekatan dengan keluarga yang membuat anak merasa tidak berharga. Secara konkret, ini menunjukkan adanya kegagalan di lingkungan terdekat, keluarga, sekolah atau sekitarnya untuk mendeteksi sinyal depresi atau perubahan perilaku sebelumnya,”
ujar Meity kepada owrite, Senin 9 Februari 2026.
Banyak yang mempertanyakan anak 10 tahun sudah paham tentang konsep bunuh diri. Menurut Meity hal itu karena paparan informasi yang tidak terfilter dari media sosial dan internet, yang kemudian berasimilasi dengan perkembangan kognitif anak yang mulai mampu berpikir abstrak.
Secara psikologis, anak usia ini sudah memasuki tahap di mana mereka memahami bahwa kematian bersifat permanen, namun karena fungsi eksekutif pada otak bagian prefrontal cortex belum matang, mereka cenderung impulsif dan melihat bunuh diri sebagai solusi instan untuk menghentikan penderitaan emosional atau sebagai bentuk komunikasi terakhir untuk menghukum lingkungan yang dianggap tidak adil,”
jelasnya.
Selain faktor pemicu tunggal, tindakan fatalistik seperti ini sering kali dipicu oleh interaksi multifaktorial antara kerentanan biologis, himpitan ekonomi, pola asuh, dan tekanan lingkungan.






