Ahli Kesehatan dr. Dicky Budiman memberi tanggapan terkait video viral di media sosial yang memperlihatkan dugaan kelalaian petugas klinik bagian pendaftaran, diduga sedang bermain game ketika pasien datang untuk berobat.
Dalam video tersebut terlihat pasien lansia dalam kondisi sedak napas. Namun diduga petugas di bagian pendaftaran ini terlihat bermain game Mobile Legend di ponselnya.
Dicky Budiman mengatakan saat video itu beredar belum menemukan lokasi atau kronologi resmi yang terverifikasi sepenuhnya. Sehingga tentu perlu tetap melakukan kehati-hatian ya dalam menyimpulkan.
Namun kejadian seperti itu menurut Dicky bukan sekedar optimum, tapi ini adalah potensi kegagalan sistem layanan kesehatan ya.
Karena dalam perspektif good governance layanan kesehatan, kejadian ini mengindikasikan ada tiga kegagalan utama, yaitu kegagalan budaya keselamatan pasien, kegagalan sistem triase dan SOP di layanan kesehatan, dan kegagalan supervisi serta akuntabilitas,”
ujar Dicky kepada owrite.
Dicky menjelaskan dalam standard global WHO, kasus sesak napas itu harus dikategorikan sebagai triase prioritas tinggi. Dan harus ada respon kurang dari 5 menit. Bahkan idealnya kasus seperti ini segera ditangani.
Jadi kalau petugas tidak peka terhadap kondisi klinis ini menunjukkan artinya tidak ada budaya sense of urgency, juga tidak terinternalisasi prinsip patient first itu,”
ucapnya.
Menurut Dicky, kejadian ini juga mengindikasikan kegagalan sistem triase dan SOP di layanan kesehatan itu.
Karena layanan primer atau klinik wajib, apalagi rumah sakit dan puskesmas, tetap wajib memiliki SOP triase sederhana.
Misalnya dengan memberikan penanganan ABC, airway breathing circulation, atau memberi jalur. Kondisi tersebut harus ditangani dengan mekanisme fast track untuk kondisi gawat.
Nah dalam kasus ini di narasi juga ya di video itu menunjukkan pasien diminta daftar dulu tanpa assessment cepat. Ini adalah indikasi SOP atau Standard Operational Procedure ada tapi tidak dijalankan. Atau memang tidak ada implementasi triase fungsional, ini berbahaya,”
ucapnya.
Dicky menyoroti perilaku petugas pendaftaran layanan kesehatan yang tengah bermain game, menunjukkan lemahnya pengawasan langsung atau direct supervision, atau tidak adanya sistem disiplin berbasis kinerja.
Nah ini termasuk maladministrasi pelayanan publik dan berpotensi melanggar undang-undang tentang pelayanan publik,”
jelasnya.
Hal kedua yang Dicky anakisa adalah adanya risiko klinis, di mana sesak napas bisa berujung fatal. Sesak napas pada lansia itu bisa terkait gagal jantung akut, pneumonia, ekstraserbasi dari COPD, chronic obstructive pulmonary disease atau PPOK, atau karena emboli paru.
Nah semua kondisi ini punya risiko menyebabkan hipoksia, kurang oksigenasi, henti napas, dan kematian. Dan keterlambatan penanganan beberapa menit saja itu bisa atau dapat meningkatkan mortalitas si pasien secara signifikan,”
jelasnya.
Menurut Dicky, fasilitas kesehatan harus memiliki sistem triase cepat di pintu masuk, pelatihan basic emergency response, SOP, no delay, atau tidak ada keterlambatan untuk gengguan pernafasan seperti sersak seperti itu.
Selanjutnya harus ada tata kelola dan kontrol terhadap pelayanannya, berupa audit rutin, ada CCTV sebagai bagian dari quality assurance, termasuk sistem pelaporan insiden. Ini penting baik semua pelayanan kesehatan.
Dan budaya organisasi, zero tolerance terhadap distraksi saat kerjax ponsel, game, itu nggak boleh, dilarang. Artinya yang harus diperkuat bahkan dalam budaya organisasi di layanan kesehatan itu dan semua layanan publik sebetulnya adalah public atau patient center care, dan professional accountability,”
tandasnya.
Kronologi
Pemilik akun TikTok @@2021putridelia membagikan video yang menunjukkan seorang petugas klinik, diduga sedang bermain game saat pasien datang untuk mendapatkan layanan kesehatan. Nampak petugas tersebut sedang fokus bermain game di layar ponsel,
Ini lagi berobat di sini, ML (Mobile Legends),”
ucap perekam video sambil merekam aktivitas petugas tersebut.
Melalui kolom komentar, pemilik akun itu menjelaskan kondisi pasien yang dibawanya ke klinik. Ia mengatakan bahwa neneknya datang dalam keadaan mengalami sesak napas dan membutuhkan penanganan segera.
Yang videoin aku ya guys dan posisinya itu nenek aku udah sesak napas banget. Harusnya langsung ditangani, nah dia malah suruh daftar dulu, mungkin iya SOP seperti itu, tapi kan ga harus santai dan sambil game gitu,”
tulisnya.
Rupanya, ia dan neneknya mendapat perlakuan tidak menyenangkan juga dari petugas yang lain. Ia mengatakan petugas lain tidak merespon saat dipanggil.
Ada satu temennya cewek, lagi di kamar pasien, sedangkan lagi kosong, lagi nggak ada pasien sama sekali. Jadi, kayanya dia cuman tiduran. Nah, dipanggil tapi bilang bentar-bentar, eh malah bilang ke toilet, sedangkan toilet posisinya ada di luar,”
imbuhnya.
Alat Tidak Tersedia
Pemilik akun itu mengaku alasan sang nenek belum ditangani karena menurut penuturan pihak klinik, alat nebulizer untuk membantu pasien dengan gangguan pernapasan, sedang tidak tersedia.
Beruntung, sang nenek diberikan alternatif alat lain yang dapat digunakan untuk penanganan. Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa tidak diberikan plastik obat dengan alasan stok yang disebut sedang kosong pada saat itu.

