Film ini menceritakan tetang Arga (Ardit Erwandha), seorang anak sulung yang sudah setahun menganggur.
Setiap kumpul keluarga saat lebaran, Arga selalu menjadi sasaran cibiran keluarga besarnya dengan beberapa pertanyaan menyebalkan seperti “kapan kerja?”
Sekilas, Film ini terlihat seperti drama komedi keluarga. Namun, jika dilihat lebih dalam, Tunggu Aku Sukses Nanti sebenarnya merepresentasikan realita anak muda sekarang yang susah mendapatkan pekerjaan.
Dalam film ini, penonton diperlihatkan bagaimana perjuangan Arga yang berusaha melamar ke beberapa perusahaan namun berujung di ghosting HRD.
Lebih dari sekadar persoalan karier, Arga juga dihadapkan pada beban tanggung jawab keluarga. Kondisi ekonomi yang tidak stabil memaksanya untuk ikut memikirkan bahkan menanggung kebutuhan rumah tangga.
Situasi ini mencerminkan fenomena sandwich generation, yaitu generasi yang berada di posisi terjepit antara membangun masa depan pribadi dan memenuhi kebutuhan orang tua.
Konsep sandwich generation yang pertama kali dikenakan oleh Dorothy Miller menyebut bahwa generasi ini terjepit di antara dua kewajiban, yaitu membangun masa depan sendiri sekaligus membiayai orang tua.
Banyak anak muda, khususnya anak pertama, tidak hanya dituntut untuk sukses secara pribadi, tetapi juga diharapkan mampu membantu perekonomian keluarga.
Akibatnya, muncul tekanan ganda: mengejar karier di tengah ketidakpastian, sekaligus memikul tanggung jawab finansial.
Dampaknya, tidak sedikit anak muda yang mengalami overthinking, rasa tidak percaya diri, hingga kelelahan emosional.
Standar kesuksesan yang dibentuk oleh lingkungan seperti harus cepat kerja, mapan di usia muda, dan terlihat “berhasil” seringkali membuat mereka merasa tertinggal, padahal setiap orang memiliki proses yang berbeda.
Realita anak muda hari ini bukan soal kurang berusaha, tetapi tentang bertahan di situasi yang tidak selalu ramah.
Seperti Arga, banyak dari mereka yang terus mencoba, meski seringkali harus menghadapi penolakan, ketidakpastian, dan ekspektasi yang tidak pernah ada habisnya.
Laporan dibuat oleh:
Hilwa Urwatul Wutsqa
