Lewati ke konten

OWRITE | Berita Terkini di Indonesia dan Belahan Dunia

Your Reading Dose, Right Here

Hype

3 Alasan Gen Z Jadi Incaran Phishing 2026

Gen Z tumbuh digital natives justru menghadapi ironi di era digital, akrab teknologi, rentan penipuan online phishing rendahnya kewaspadaan.

Ilustrasi penipuan dengan kartu kredit
Ilustrasi penipuan dengan kartu kredit (Foto: freepik)

Generasi Z (Gen Z) yang tumbuh sebagai digital natives justru menghadapi ironi di era digital, karena meski akrab dengan teknologi, mereka menjadi kelompok paling rentan terhadap penipuan online atau phishing akibat rendahnya kewaspadaan dan tingginya rasa percaya diri saat berinternet.

Data dari survei EY tahun 2024 dan laporan awal 2026 mengungkapkan bahwa, hanya sekitar 31 persen Gen Z yang benar-benar yakin mampu mengenali upaya phishing.

Bahkan, kelompok ini tercatat mengalami kerugian finansial akibat penipuan digital dengan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.

Iklan

Hal ini menunjukkan bahwa, kemampuan menggunakan teknologi tidak otomatis membuat seseorang aman dari kejahatan cyber.

Di tahun 2026, modus penipuan digital kini semakin menyesuaikan dengan kebiasaan Gen Z. Pelaku tidak lagi mengandalkan email formal, melainkan menyasar platform populer seperti TikTok dan Instagram. Berikut modus-modus penipuan yang biasa dilakukan.

  1. VPN Gratis Palsu

Banyak Gen Z menggunakan VPN untuk nonton film atau akses konten tertentu. Tapi, tidak sedikit VPN gratis yang ternyata palsu dan mengandung malware. Modus ini memanfaatkan kebutuhan pengguna untuk membuka akses konten tertentu, dan dari sini data pribadi seperti password bisa dicuri.

  1. Lowongan Kerja atau Giveaway Palsu di Media Sosial

Penipu sering menyamar jadi HRD atau influencer di Instagram dan TikTok. Mereka menawarkan pekerjaan atau hadiah, lalu mengirim link. Begitu di klik, korban diminta mengisi data pribadi atau bahkan transfer uang.

  1. Penipuan Mengatasnamakan Instansi via WhatsApp

Pesan palsu yang mengaku dari instansi resmi seperti Dukcapil dan Direktorat Jenderal Pajak melalui pesan WhatsApp.

Modus ini biasanya berupa permintaan pembaruan data atau informasi administratif yang ternyata bertujuan mencuri data pribadi korban.

Penelitian ResearchGate menilai bahwa keberhasilan serangan phishing terhadap Gen Z lebih banyak dipengaruhi oleh teknik social engineering, yakni manipulasi psikologis yang memanfaatkan emosi, rasa penasaran, dan kebutuhan pengguna.

Dengan meningkatnya intensitas serangan dan semakin canggihnya modus penipuan digital, Gen Z diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang aktif, tetapi juga cerdas dan waspada dalam menjaga keamanan data pribadi di ruang digital.

Iklan