Jagat media sosial diramaikan dengan isu dugaan diskriminasi yang melibatkan sebuah klub lari di Canggu, Bali.
Komunitas bernama Entourage Bali menuai kecaman publik setelah diduga menolak warga negara indonesia (WNI) yang ingin bergabung dalam event lari tersebut dan hanya menerima peserta asing (bule).
Yang membuat netizen bingung adalah kegiatan tersebut berlangsung di wilayah hukum indonesia dan memanfaatkan ruang publik, namun menolak warga lokal yang ingin mendaftar.
Kronologi Kejadian
Isu ini mencuat usai sejumlah unggahan di media sosial menuding Entourage Bali bersikap diskriminatif.
Gelombang protes kian membesar setelah Senator asal Bali Niluh Djelantik turut angkat bicara di akun Instagram pribadinya.
Dalam unggahannya, Niluh mendesak pihak kepolisian dan imigrasi setempat untuk turun tangan menyelidiki dugaan diskriminasi serta kelengkapan izin kegiatan tersebut.
Kami meminta pihak Imigrasi Bali dan Polda Bali agar menindaklanjuti laporan terkait dugaan diskriminasi oleh WNA, serta menelusuri kegiatan yang diduga tidak berizin ini,”
ujar Niluh.
Ia juga mengingatkan bahwa seluruh warga negara asing yang beraktivitas di Indonesia wajib menghormati hukum dan norma lokal.
Tak hanya itu, kritik tajam juga datang dari dua konten kreator sekaligus pegiat olahraga lari asal Inggris dan Australia yang menetap di Indonesia yaitu Josh Berlari dan Jack Ahearn.
Melalui unggahan media sosialnya keduanya menyuarakan keprihatinan atas dugaan diskriminasi tersebut.
Josh menilai praktik semacam itu sangat bertolak belakang dengan karakter ramah dan terbuka masyarakat Indonesia.
Ada klub lari di Bali yang melarang orang Indonesia untuk bergabung,”
sesal Josh.
Sementara itu, Jack mempertanyakan etika pihak penyelenggara yang dinilai tak tahu adat di negara orang lain.
How do you come to someone else’s country and then think you have the right to do that? (Bagaimana bisa Anda datang ke negara orang lain, lalu merasa berhak melakukan hal itu?)”
sentil Jack.
Entourage Buka Suara dan Minta Maaf
Menanggapi polemik yang kian memanas, pihak Entourage akhirnya buka suara dan menyampaikan permohonan maaf resmi melalui Instagram.
Mereka juga membantah tuduhan sengaja melakukan diskriminasi.
Pihak penyelenggara menjelaskan bahwa Entourage awalnya dibentuk sebagai wadah berjejaring bagi para digital nomad di Bali dan mengklaim beberapa WNI pun sebenarnya terdaftar sebagai anggota.
Terkait agenda Silent Disco Run yang digelar pada Rabu, 22 Juli 2026, Entourage menyebut acara itu bersifat berbayar dan terbuka untuk umum.
Entourage mengklaim bahwa kuota peserta memang dibatasi karena mengingat device yang mereka punya untuk merespon setiap pendaftar terbatas.
Pihak penyelenggara juga membantah tuduhan atas peserta lari haya orang bule saja, Entourage menyebut ada 120 tiket dengan 94 tiket yang terjual, dan peserta asal indonesia merupakan kelompok terbanyak.
Alasan Sistem Otomatis Reject Nomor +62
Meski demikian, Entourage mengakui adanya keteledoran pada sistem kurasi mereka. Ada kesalahan teknis pada fitur persetujuan otomatis (auto-approval) di grup WhatsApp serta pendaftaran kegiatan non-lari.
Sistem tersebut secara keliru memblokir atau menolak nomor telepon berkode negara Indonesia (+62).
Kami telah melakukan kesalahan dalam proses persetujuan otomatis. Saat berupaya membangun ruang bagi digital nomad, muncul bias sistem yang menyebabkan sebagian nomor +62 atau warga Indonesia tertolak secara tidak sengaja,”
tulis pernyataan resmi Entourage.
Atas insiden ini, Entourage memutuskan untuk menghentikan sementara seluruh kegiatan komunitas. Pihaknya berjanji akan melakukan evaluasi internal total serta membenahi sistem pendaftaran agar kejadian serupa tidak terulang kembali.




















