Pijat kerap menjadi pilihan banyak orang untuk meredakan pegal setelah beraktivitas seharian. Namun, di balik rasa nyaman yang muncul, ternyata ada penjelasan ilmiah mengenai manfaat pijat bagi tubuh.
Melalui sebuah video yang dibagikan oleh Ekida Rehan Firmansyah, seorang medical doctor sekaligus kreator konten yang kerap membagikan edukasi seputar kesehatan di media sosial, dijelaskan bahwa pijat tidak hanya membuat tubuh terasa lebih rileks.
Pemijatan juga memicu berbagai respons fisiologis yang dapat membantu mengurangi nyeri, menurunkan stres, hingga mempercepat pemulihan otot setelah berolahraga. Berikut penjelasan medisnya terkait manfaat pijat.
Sentuhan Pijat Membantu Mengurangi Rasa Nyeri
Menurut Ekida Rehan Firmansyah, saat tubuh dipijat, kulit dan jaringan di bawahnya menerima rangsangan berupa sensasi taktil atau sentuhan.
Rangsangan ini dapat membantu mengurangi persepsi nyeri yang dirasakan tubuh sehingga otot yang pegal atau kaku terasa lebih nyaman.
Secara medis, fenomena ini dijelaskan melalui Gate Control Theory of Pain, yaitu teori yang menyebutkan bahwa rangsangan sentuhan dapat “menghambat” sinyal nyeri sebelum mencapai otak. Akibatnya, rasa sakit yang dirasakan seseorang menjadi berkurang.
Mengaktifkan Sistem Saraf Parasimpatis
Selain membantu meredakan nyeri, pijat juga dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yaitu bagian dari sistem saraf otonom yang berperan dalam proses istirahat dan pemulihan tubuh (rest and digest).
Aktivasi sistem ini telah terbukti dalam berbagai penelitian dapat memberikan sejumlah manfaat, antara lain:
- Menurunkan detak jantung.
- Menurunkan tekanan darah.
- Mengurangi kadar hormon kortisol atau hormon stres.
- Meningkatkan kadar serotonin dan dopamin yang berperan dalam menciptakan rasa tenang, rileks, dan suasana hati yang lebih baik.
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa terapi pijat dapat membantu mengurangi tingkat kecemasan serta meningkatkan kualitas tidur pada sebagian orang, meskipun manfaatnya dapat berbeda pada setiap individu.
Membantu Mengurangi Ketegangan dan Spasme Otot
Kalau pijatannya dalam dan tepat di muscle knot atau tepat di otot yang tegang, itu dapat menurunkan sensitivitas refleks regang,”
kata Ekida.
Pijatan yang dilakukan dengan tekanan yang tepat pada otot yang tegang atau mengalami muscle knot dapat membantu mengurangi ketegangan maupun spasme otot.
Hal ini terjadi karena pijatan dapat menurunkan sensitivitas refleks regang pada otot sehingga otot menjadi lebih rileks.
Selain itu, pijat juga membantu meningkatkan aliran darah ke jaringan yang dipijat. Peningkatan sirkulasi ini mendukung proses pengiriman oksigen dan nutrisi ke otot sehingga dapat membantu proses pemulihan.
Waktu Terbaik Melakukan Pijat Setelah Olahraga
Banyak orang bertanya apakah pijat sebaiknya dilakukan sebelum atau setelah berolahraga. Menurut Ekida, penelitian menunjukkan bahwa pijat lebih efektif dilakukan setelah olahraga berat, terutama ketika muncul Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS), yaitu nyeri otot yang biasanya muncul 24–72 jam setelah aktivitas fisik intens.
Sejumlah penelitian dan tinjauan sistematis menemukan bahwa terapi pijat setelah olahraga dapat membantu mengurangi intensitas nyeri akibat DOMS, mempercepat pemulihan fungsi otot, dan mengurangi rasa kaku setelah latihan berat.
Namun, bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa pijat tidak secara signifikan meningkatkan kekuatan otot atau performa olahraga. Manfaat utamanya lebih berkaitan dengan kenyamanan, pengurangan nyeri, dan percepatan pemulihan.
Meski memiliki banyak manfaat, pijat tidak perlu dilakukan secara terus-menerus jika tidak ada keluhan tertentu. Frekuensi pijat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh, tingkat aktivitas, dan tujuan terapi.



















