Penyanyi pop Katy Perry melayangkan protes keras ke Gedung Putih setelah menggunakan lagunya yang berjudul Firework untuk mengiringi rekaman serangan militer AS ke Iran.
Perry mengungkapkan, ia tidak pernah memberi persetujuan lagunya digunakan untuk mengiringi serangan AS ke Iran, dan hal ini bertentangan dengan makna lagu yang ingin ia sampaikan.
Melalui akun X pribadinya, Katy Perry mengaku sangat kecewa dan marah setelah mengetahui lagunya dipakai sebagai latar musik video berdurasi sembilan detik yang menampilkan ledakan-ledakan yang disebut sebagai serangan militer AS ke Iran.
Saya tidak pernah menyetujui ini, tidak pernah dimintai izin, dan saya sama sekali tidak mendukungnya,”
tulis Perry pada Sabtu, 25 Juli 2026.
Pelantun Roar itu menjelaskan bahwa Firework diciptakan sebagai lagu yang membawa harapan, penyembuhan, dan kekuatan bagi orang-orang yang sedang menghadapi masa sulit dalam hidup mereka.
Saya menulis lagu ini sebagai lagu penyemangat tentang harapan, penyembuhan, dan kekuatan batin. Melihat pesan tentang harga diri dan semangat itu digunakan untuk mengiringi kehancuran dan kekerasan adalah pelanggaran terhadap semua nilai yang diwakili lagu ini,”
lanjutnya.
Perry juga menegaskan bahwa musiknya dibuat untuk menyatukan orang, bukan untuk merayakan peperangan.
Tuai Sorotan
Video yang diunggah akun TikTok resmi Gedung Putih menampilkan cuplikan ledakan yang disebut sebagai operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Potongan lagu Firework dipilih sebagai musik latar, tepat ketika lirik “Boom, boom, boom” terdengar bersamaan dengan adegan ledakan.
Unggahan tersebut diberi keterangan singkat, “Iran has been warned” atau “Iran telah diperingatkan.”
Melansir dari laporan Fox17, hingga Jumat, 31 Juli 2026 video itu masih tersedia di akun TikTok Gedung Putih, namun dengan audio lagu Firework yang telah dihapus.
Hingga kini, pihak Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi atas kritik yang disampaikan Katy Perry.
Diprotes Musisi
Katy Perry bukan satu-satunya artis yang memprotes penggunaan karyanya dalam konten politik.
Menurut laporan CBC, pada Juni 2026 penyanyi Ariana Grande juga pernah memprotes Gedung Putih karena menggunakan lagunya sebagai latar dalam promosi kebijakan imigrasi Amerika Serikat.
Ariana juga meminta agar musiknya tidak lagi digunakan untuk mengiringi konten yang berkaitan dengan kebijakan yang menurutnya tidak manusiawi.
Selain itu, musisi legendaris Bruce Springsteen, Rihanna, Neil Young, hingga grup band The Rolling Stones juga pernah menyatakan keberatan ketika lagu mereka digunakan dalam acara politik maupun kampanye tanpa persetujuan.
Meski Katy Perry menyatakan keberatan, CBC melaporkan bahwa pada 2023 Perry sudah menjual hak penerbitan lima albumnya kepada Litmus Music dengan nilai sekitar 225 juta dolar AS. Kesepakatan tersebut mencakup album Teenage Dream, yang berisi lagu Firework.
Selain itu, hak atas rekaman asli (master recording) masih dimiliki Universal Music Group. Musik dari Universal juga telah menandatangani lisensi dengan TikTok yang berlaku sejak 2024.
Artinya, meski Perry menolak penggunaan lagunya secara moral, keputusan mengenai penggunaan musik di platform digital juga bergantung pada perjanjian lisensi dan pemegang hak cipta yang berlaku.





















