Keberlanjutan wastra Nusantara bergantung pada kemampuan para desainer menghadirkan karya yang tetap relevan dengan selera dan gaya hidup generasi muda.
Hal tersebut menjadi pesan utama dalam peragaan busana LUMINARA yang menutup hari ketiga penyelenggaraan BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta.
LUMINARA menghadirkan karya dari sejumlah desainer seperti Lia Afif yang berkolaborasi dengan Dekranasda Kabupaten Jombang, Nobby x Biyantie, Duai Fav, House of Syaira, Ayesha by MNO, Indah Darry x Lutsaf, Arinna Premium Hijab, Jiamila, serta Zahira by Kyoko.
Seluruh koleksi memperlihatkan bagaimana kain tradisional Indonesia dapat diolah menjadi busana modern tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat.
Beragam koleksi yang ditampilkan mengeksplorasi batik pewarna alam, motif yang terinspirasi dari kuliner tradisional, identitas budaya daerah, hingga konsep ready-to-wear yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat masa kini.
Salah satu koleksi yang mencuri perhatian adalah Akasa Dharani karya Lia Afif bersama Dekranasda Kabupaten Jombang. Koleksi ini mengangkat filosofi harmoni antara langit dan bumi melalui Batik Tulis Jombang yang menggunakan pewarna alami.
Warna biru menjadi simbol langit, sedangkan cokelat dan hijau zaitun melambangkan bumi. Sebanyak 12 busana ditampilkan dengan siluet A-line dan I-line yang dipadukan dengan teknik drapery, potongan asimetris, serta konstruksi modern.
Seluruh kain batik dibuat menggunakan pewarna alam dengan proses pengerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi, bahkan satu lembar kain dapat diselesaikan dalam waktu lebih dari satu bulan.
Motif Batik Tulis
Sementara itu, Duai Fav menghadirkan koleksi bertajuk Marcapada yang mengambil inspirasi dari kudapan tradisional khas Priangan, saroja.
Untuk pertama kalinya, bentuk jajanan tersebut diterjemahkan ke dalam motif batik tulis yang dipadukan dengan eksplorasi warna dan detail bertema alam semesta.
Koleksi tersebut terdiri atas 12 look yang menyasar berbagai kalangan, termasuk Generasi Z. Perpaduan batik tulis dengan brokat serta siluet yang lebih ringan menjadi upaya menghadirkan busana tradisional dalam tampilan yang lebih segar dan modern.
Interpretasi budaya lokal juga ditampilkan melalui kolaborasi Indah Darry x Lutsaf yang mengangkat budaya Betawi. Berbeda dari pendekatan yang umum, koleksi ini memilih motif kembang kelapa dengan sentuhan tribal serta penggunaan warna-warna yang lebih sesuai dengan preferensi anak muda.
Di sisi lain, Zahira by Kyoko memadukan unsur wastra Nusantara dengan potongan blazer modern. Pendekatan tersebut membuat elemen budaya lebih mudah dikenakan dalam aktivitas sehari-hari tanpa mengurangi nilai estetikanya.
Nuansa feminin turut dihadirkan House of Syaira melalui koleksi Blossomsy yang mengusung konsep easy-to-wear. Koleksi ini menggunakan material satin dan embroidery serta siluet ringan sehingga dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan.
Melalui LUMINARA, para desainer menunjukkan bahwa pelestarian wastra Nusantara tidak hanya dilakukan dengan mempertahankan tradisi, tetapi juga melalui inovasi desain yang mampu menjawab kebutuhan pasar modern.
Dengan pendekatan tersebut, kain tradisional Indonesia diharapkan terus berkembang dan semakin diminati oleh generasi muda, sekaligus tetap menjaga identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.





















