Belakangan ini, kimpul kembali mencuri perhatian warganet. Salah satunya melalui konten kreator TikTok dari akun @black.sheep8208 yang rutin membagikan kreasi makanan modern berbahan dasar kimpul, mulai dari camilan hingga hidangan rumahan.
Di balik popularitasnya di media sosial, kimpul sebenarnya bukan bahan pangan baru. Umbi yang telah lama dikonsumsi masyarakat Indonesia ini memiliki kandungan gizi yang cukup baik dan dapat menjadi salah satu sumber karbohidrat alternatif selain nasi, kentang, maupun singkong.
Selain mengenyangkan, kimpul juga mengandung serat, vitamin, dan mineral yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Lalu, apa sebenarnya kimpul, apa saja kandungan gizinya, dan manfaat apa yang bisa diperoleh dari mengonsumsinya, berikut penjelasannya.
Apa Itu Kimpul?
Melansir dari laman Halodoc (26 Juni 2026), kimpul (Xanthosoma sagittifolium) merupakan umbi yang di Indonesia juga dikenal sebagai talas belitung atau bentul. Meski sekilas mirip dengan talas, kimpul memiliki tekstur yang lebih padat dan cita rasa gurih jika diolah dengan benar.
Selama ini kimpul lebih dikenal sebagai makanan tradisional. Namun, umbi ini sebenarnya memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif yang dapat menggantikan nasi, kentang, maupun singkong.
Selain itu, kimpul juga mudah diolah menjadi berbagai hidangan, mulai dari makanan rebus hingga tepung sebagai bahan baku aneka produk pangan.
Kandungan Gizi Kimpul
Kimpul mengandung karbohidrat kompleks, serat pangan, protein nabati, vitamin C, vitamin B kompleks, kalium, dan zat besi. Beragam kandungan tersebut menjadikan kimpul sebagai salah satu sumber karbohidrat alternatif yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga bernilai gizi.
Berkat kandungan gizinya, mengonsumsi kimpul dapat memberikan sejumlah manfaat bagi kesehatan antara lain:
- Menjadi sumber energi dari karbohidrat kompleks.
- Membantu menjaga kesehatan saluran pencernaan berkat kandungan serat.
- Membantu mengontrol kadar gula darah karena mengandung pati resisten.
- Mendukung kesehatan mikrobioma usus.
- Berpotensi menurunkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, obesitas, hingga kanker usus besar sebagai bagian dari pola makan sehat.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Nutritional Biochemistry (2026) menemukan bahwa kimpul yang direbus lalu didinginkan mengalami peningkatan kadar pati resisten hingga sekitar 40 persen.
Pati resisten tersebut berkontribusi dalam membantu regulasi gula darah.
Sementara itu, publikasi dalam Global Food Security & Nutrition Journal (2026) menyebutkan bahwa kandungan serat tidak larut pada kimpul berpotensi membantu menurunkan risiko kanker usus besar apabila dikonsumsi secara rutin.
Kimpul Mentah
Meski memiliki banyak manfaat, kimpul tidak boleh dikonsumsi dalam keadaan mentah atau setengah matang. Umbi ini mengandung kristal kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal, sensasi terbakar, hingga pembengkakan pada mulut dan tenggorokan.
Agar aman dikonsumsi, kimpul sebaiknya direbus, dikukus, atau digoreng hingga benar-benar matang. Proses pemasakan membantu mengurangi kandungan kalsium oksalat sehingga efek gatal dapat diminimalkan.
Kaya Senyawa Bioaktif
Menurut Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, M.S., Guru Besar Ilmu Gizi sekaligus Ketua Dewan Guru Besar IPB University, talas kimpul merupakan bahan baku yang berpotensi menghasilkan pati resisten tipe III (RS3).
Talas kimpul dapat dianggap sebagai bahan baku yang layak untuk mendapatkan pati resisten tipe III (RS3). Pati resisten ini bagus untuk kesehatan karena mencegah penyakit kardiovaskular, kanker kolon, diabetes, obesitas, dan osteoporosis,”
jelas Hardinsyah.
Pati resisten juga menyehatkan usus, memudahkan penyerapan zat gizi mikro hingga meningkatkan jumlah mikroorganisme probiotik dalam tubuh,”
Ketahanan Pangan
Hardinsyah menilai pemanfaatan kimpul masih belum optimal. Selama ini umbi tersebut umumnya hanya direbus atau digoreng, padahal kimpul dapat diolah menjadi tepung untuk berbagai produk pangan seperti roti, cookies, mi, bakso, brownies, hingga bahan pengental makanan.
Melihat potensi tersebut, kimpul tidak hanya layak dipandang sebagai umbi tradisional, tetapi juga sebagai salah satu pangan lokal yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat kesehatan.
Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap pangan lokal, kehadiran berbagai kreasi olahan kimpul juga menjadi bukti bahwa bahan pangan tradisional dapat diolah menjadi makanan yang modern, lezat, dan bernilai gizi.




















