Belakangan ini, istilah diversifikasi pangan semakin sering diperbincangkan di media sosial. Salah satu pemicunya adalah viralnya berbagai video yang mengulas kimpul sebagai bahan pangan lokal yang dapat diolah menjadi beragam makanan.
Tak hanya dari satu kreator, banyak warganet dan konten kreator lain juga mulai membagikan cara mengolah hingga potensi kimpul sebagai alternatif sumber pangan.
Fenomena tersebut membuat masyarakat kembali melirik berbagai pangan lokal yang selama ini kurang populer.
Di balik ramainya pembahasan itu, muncul pula pertanyaan, apa sebenarnya yang dimaksud dengan diversifikasi pangan dan mengapa konsep ini penting bagi Indonesia?
Diversifikasi Pangan
Dilansir dari laman Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, diversifikasi pangan merupakan upaya meningkatkan variasi jenis makanan yang dikonsumsi masyarakat sehingga tidak bergantung pada satu jenis pangan pokok, seperti beras.
Langkah ini bertujuan memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas gizi, sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan berbagai sumber pangan yang tersedia.
Ketahanan Pangan
Peneliti Pusat Riset Agroindustri, Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, Sri Widowati, pada 10 Desember 2024 menjelaskan bahwa diversifikasi pangan lokal merupakan strategi penting untuk mengatasi tantangan ketahanan pangan, gizi, dan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan sekaligus memanfaatkan kekayaan pangan lokal Indonesia.
Sri mengatakan, diversifikasi pangan juga dapat membantu meningkatkan kualitas gizi masyarakat, mengurangi ketergantungan pada beras, serta menjadi salah satu solusi dalam mengatasi stunting, diabetes, dan hipertensi.
Dua Pendekatan
Sri menjelaskan bahwa diversifikasi pangan memiliki dua pendekatan utama, yaitu:
- Diversifikasi horizontal, yakni mengalihkan konsumsi dari satu sumber karbohidrat utama seperti beras ke pangan lain, misalnya jagung, ubi kayu, sorgum, dan talas.
- Diversifikasi vertikal, yaitu mengembangkan berbagai produk olahan dari satu bahan pangan. Contohnya, ubi kayu diolah menjadi tepung kasava yang kemudian dapat digunakan untuk membuat mi, pasta, atau roti.
Kaya Pangan Lokal
Meski memiliki kekayaan pangan yang melimpah, konsumsi umbi-umbian dan kacang-kacangan di Indonesia masih tergolong rendah.
Padahal, Indonesia memiliki sekitar 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis sumber protein, serta beragam buah dan sayuran yang berpotensi menjadi pangan alternatif.
Banyak pangan lokal, khususnya umbi-umbian, mengandung serat, pati resisten, antioksidan, dan memiliki indeks glikemik yang rendah.
Sementara itu, kacang-kacangan seperti kedelai dan kacang koro merupakan sumber protein nabati yang baik.
Regulasi dan Kolaborasi
Keberhasilan diversifikasi pangan memerlukan dukungan berbagai pihak. Selain regulasi, seperti Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 13 Tahun 2024 tentang standar mutu produk pangan lokal, diperlukan pula promosi pangan lokal, inovasi produk, serta kolaborasi antara pemerintah, industri pangan, UMKM, dan lembaga pendidikan.
Sri mengatakan bahwa program diversifikasi pangan juga perlu diintegrasikan ke dalam kebijakan nasional, termasuk program makanan bergizi gratis, agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Indonesia memiliki kekayaan pengetahuan tentang pangan lokal yang perlu terus dilestarikan agar dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang dan mendukung berbagai program pemerintah, termasuk upaya pencegahan stunting.




















