Suara tabuhan rebana sering terdengar mengiringi lantunan selawat, kasidah, hingga berbagai perayaan keagamaan di Indonesia.
Alat musik tradisional berbentuk bundar ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat selama ratusan tahun.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa rebana sebenarnya berasal dari Timur Tengah dan masuk ke Nusantara bersamaan dengan penyebaran agama Islam.
Seiring waktu, rebana berkembang menjadi warisan budaya yang memiliki nilai seni, sejarah, sekaligus spiritual.
Sejarah Rebana
Menurut penjelasan dalam Jurnal Akulturasi Kesenian Rebana oleh Syahrul Syah Sinaga, Rebana merupakan salah satu alat musik tradisional yang berbentuk bundar dan terbuat dari kulit.
Alat musik ini telah populer di Indonesia terutama dalam acara keagamaan seperti Maulid Nabi Muhammad SAW sambil diiringi sholawat.
Kata Rebana berasal dari bahasa Arab (Arbaa) yang berarti empat. Bilangan empat ini mengandung prinsip-prinsip dasar agama Islam, yaitu melakukan kewajiban terhadap Allah SWT, masyarakat, kepada alam dan melakukan kewajiban pada diri sendiri.
Berdasarkan literatur sejarah kesenian yang diterbitkan oleh Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional tahun 1990, instrument musik rebana masuk ke Indonesia sekitar abad 15 masehi, kemudian perkembangan agama Islam di Indonesia memberikan pengaruh terhadap perkembangan seni rebana.
Pada masa penyebaran agama Islam, rebana menjadi salah satu media dakwah efektif yang dilakukan oleh Wali Songo.
Musik rebana digunakan untuk mengiringi syair-syair berisi pujian kepada Allah SWT, selawat kepada Nabi Muhammad SAW, serta pesan-pesan moral yang mudah diterima masyarakat.
Biasanya, Rebana dimainkan saat ada acara syukuran pernikahan, khitanan, Maulid Nabi Muhammad maupun saat peresmian tempat yang berkaitan dengan religi.
Saat ini, rebana banyak dilombakan di sekolah-sekolah islami bahkan perguruan tinggi islam.
Masih mengutip dari Jurnal yang sama, di Indonesia ada beragam jenis rebana yang berkembang sesuai karakter budaya daerah, antara lain:
1. Rebana Hadrah
Jenis rebana yang paling sering digunakan dalam kelompok hadrah untuk mengiringi selawat dan syair Islami.
2. Rebana Kasidah
Digunakan dalam musik kasidah modern maupun tradisional dengan irama yang lebih dinamis.
3. Rebana Biang
Merupakan rebana berukuran besar yang menjadi salah satu kesenian khas masyarakat Betawi.
4. Rebana Ketimpring
Berukuran lebih kecil dibanding rebana biang dan menghasilkan suara yang lebih nyaring.
5. Rebana Marawis
Digunakan dalam musik marawis yang mendapat pengaruh kuat dari budaya Timur Tengah. Biasanya dimainkan secara berkelompok dengan berbagai ukuran alat musik perkusi.
Cara Memainkan Rebana
Rebana dimainkan dengan cara dipukul menggunakan telapak tangan dan jari. Teknik pukulan yang berbeda akan menghasilkan variasi bunyi, seperti nada tinggi, rendah, pendek, maupun panjang.
Dalam sebuah pertunjukan, beberapa pemain biasanya memainkan pola ritme yang saling melengkapi sehingga menghasilkan irama yang harmonis.
Bagi masyarakat Indonesia, rebana bukan sekadar alat musik. Kehadirannya mencerminkan perpaduan antara nilai keagamaan dan budaya lokal yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Rebana juga menjadi simbol kebersamaan karena umumnya dimainkan secara berkelompok dalam berbagai kegiatan sosial maupun keagamaan.
Selain sebagai hiburan, rebana berperan sebagai media penyampaian pesan moral, pendidikan karakter, serta sarana mempererat hubungan antarmasyarakat.
Di tengah perkembangan musik modern, rebana tetap bertahan berkat berbagai upaya pelestarian. Banyak sekolah, pesantren, sanggar seni, hingga komunitas budaya yang mengajarkan cara memainkan rebana kepada generasi muda.
Festival hadrah, lomba kasidah, dan pertunjukan budaya juga menjadi wadah untuk memperkenalkan rebana kepada masyarakat luas





















