Banyak orang memilih beristirahat sejenak di dalam mobil setelah perjalanan jauh atau saat menunggu seseorang. Kabin mobil yang tenang, sejuk, dan nyaman memang sering membuat pengemudi maupun penumpang tanpa sadar tertidur.
Namun, kebiasaan tidur di dalam mobil dengan mesin dan AC yang masih menyala ternyata menyimpan risiko yang sangat berbahaya.
Kasus kematian akibat keracunan gas karbon monoksida (CO) saat tidur di dalam mobil masih terus terjadi. Bahaya ini sering kali tidak disadari karena gas karbon monoksida tidak memiliki warna, bau, maupun rasa sehingga mustahil dideteksi oleh indra manusia.
Lalu, apa sebenarnya yang membuat karbon monoksida begitu berbahaya? Guru Besar FMIPA UI, Prof. Zulys, menjelaskan hal tersebut melalui unggahan di akun Instagram @prof.zulys. Berikut penjelasannya.
Apa Itu Karbon Monoksida? Melansir dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna, tidak berasa, tidak mengiritasi, dan tidak berbau.
Gas ini dihasilkan melalui pembakaran gas, minyak, petrol, bahan bakar padat, atau kayu. Terbentuknya gas CO berasal dari kebakaran, tungku, pemanas, oven, dan mesin.
Dalam kondisi tertentu, gas buang dari knalpot dapat masuk kembali ke dalam kabin mobil. Hal ini dapat terjadi akibat beberapa faktor, seperti:
- Kebocoran pada sistem knalpot.
- Sirkulasi udara atau AC yang tidak optimal.
- Mobil dinyalakan di ruang tertutup, seperti garasi tanpa ventilasi yang memadai.
Ketika gas karbon monoksida masuk ke dalam kabin, penumpang berisiko menghirupnya tanpa menyadari adanya ancaman.
Setelah terhirup, karbon monoksida akan masuk ke aliran darah dan berikatan dengan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Lebih lanjut, Prof. Zulys menjelaskan bahwa karbon monoksida memiliki daya ikat terhadap hemoglobin sekitar 200 hingga 250 kali lebih kuat dibandingkan oksigen.
Akibatnya, oksigen tidak dapat diangkut secara optimal ke organ-organ penting, terutama otak dan jantung.
Begitu masuk ke tubuh, karbon monoksida menyerang darah kita. Senyawa ini sangat berbahaya karena ia mengikat hemoglobin lebih kuat 200 kali daripada oksigen. Akibatnya, oksigen tidak sampai ke otak,”
jelasnya.
Ketika otak kekurangan oksigen, seseorang tidak selalu langsung merasakan sesak napas atau rasa panik. Justru gejala awal yang muncul biasanya berupa mengantuk, pusing, lemas, hingga sulit berkonsentrasi.
Karena itulah banyak korban akhirnya tertidur semakin pulas tanpa menyadari bahwa tubuhnya sedang mengalami kekurangan oksigen. Jika paparan terus berlanjut, korban bisa kehilangan kesadaran hingga meninggal dunia.
Karbon monoksida disebut sebagai silent killer atau “pembunuh diam-diam”. Hal itu karena gas ini tidak memberikan tanda-tanda yang mudah dikenali.
Korban tidak mencium bau apa pun, tidak melihat asap, bahkan sering kali tidak merasa kesulitan bernapas. Rasa kantuk yang muncul justru membuat seseorang semakin sulit menyelamatkan diri.
Tanpa penanganan cepat, kekurangan oksigen pada otak dapat menyebabkan kerusakan permanen hingga kematian.
Cara Mencegah Keracunan Karbon Monoksida Untuk menghindari risiko keracunan karbon monoksida, Prof. Zulys menyarankan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan:
- Hindari tidur di dalam mobil dengan mesin dan AC tetap menyala.
- Jangan menyalakan mobil di garasi atau ruang tertutup yang minim ventilasi.
- Pastikan knalpot dan sistem pembuangan kendaraan tidak mengalami kebocoran.
- Lakukan servis kendaraan secara rutin agar sistem pembakaran dan pembuangan gas tetap berfungsi dengan baik.
Jika terpaksa berhenti untuk beristirahat, lebih aman mematikan mesin dan mencari tempat dengan sirkulasi udara yang baik.





















