Kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola makan sehat mendorong munculnya berbagai alternatif pengganti nasi putih.
Salah satu yang mulai banyak diminati adalah beras porang. Bahan pangan ini kerap dipilih oleh orang yang ingin mengurangi asupan kalori dan karbohidrat.
Meski sama-sama diolah sebagai pengganti nasi, beras porang memiliki karakteristik yang berbeda dengan beras biasa.
Perbedaan tersebut tidak hanya terlihat dari bahan baku pembuatannya, tetapi juga kandungan gizi, tekstur, hingga manfaat yang ditawarkan bagi kesehatan.
Dilansir dari laman Halodoc (15 Juli 2026), berikut keunggulan beras porang dan bagaimana perbedaannya dengan beras biasa.
Beras Porang
Merupakan alternatif pengganti beras putih yang dibuat dari umbi porang (Amorphophallus muelleri).
Bentuknya menyerupai butiran beras, tetapi setelah dimasak teksturnya cenderung lebih kenyal dan sedikit transparan.
Tanaman porang mudah tumbuh di kawasan hutan tropis, salah satunya Indonesia.
Berbeda dengan beras putih yang berasal dari padi, beras porang termasuk beras analog atau beras tiruan karena dibuat dari bahan nonpadi. Meski tampilannya mirip, kandungan gizinya cukup berbeda.
Beras porang dikenal mengandung serat yang lebih tinggi, terutama serat larut berupa glukomanan, serta memiliki kalori dan karbohidrat yang lebih rendah dibandingkan beras putih.
Perbedaan inilah yang membuat beras porang banyak dipilih sebagai alternatif beras biasa.
Proses Pembuatan
Sebelum menjadi butiran yang menyerupai beras, umbi porang melalui beberapa tahapan pengolahan, yaitu:
1. Umbi dipanen dan dibersihkan. Umbi porang yang telah cukup umur dipanen, kemudian dibersihkan dari sisa tanah dan kotoran.
2. Diiris dan dikeringkan. Umbi diiris tipis lalu dikeringkan hingga menjadi chip atau keripik porang.
3. Diolah menjadi tepung. Keripik porang digiling menjadi tepung. Pada proses ini, kandungan kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal juga dikurangi sehingga lebih aman dikonsumsi.
4. Dicetak menjadi butiran beras. Tepung porang kemudian dicampur dengan air dan bahan pangan lain yang diizinkan, seperti sedikit tepung beras atau bahan pengikat alami, kemudian dibentuk seperti butiran beras.
Hasil akhirnya adalah beras porang yang dapat dimasak layaknya beras pada umumnya. Meski bentuknya mirip, beras porang memiliki kandungan serat lebih tinggi serta kalori dan karbohidrat yang lebih rendah dibandingkan beras putih.
Manfaat Beras Porang
Beras porang banyak dipilih sebagai alternatif pengganti beras putih karena mengandung glukomanan, yaitu serat larut yang memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Berikut beberapa manfaatnya.
- Membantu Menjaga Berat Badan
- Glukomanan dapat menyerap air dan memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga membantu mengurangi makan berlebihan dan mendukung program pengelolaan berat badan.
- Membantu Mengontrol Kadar Gula Darah
- Beras porang memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras putih. Kandungan glukomanan membantu memperlambat penyerapan gula sehingga kadar gula darah lebih stabil setelah makan.
- Menjaga Kesehatan Pencernaan
- Kandungan seratnya membantu melancarkan buang air besar, mengurangi risiko sembelit, serta mendukung pertumbuhan bakteri baik di dalam usus.
- Membantu Menurunkan Kolesterol
- Glukomanan dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dengan mengikat kolesterol dan asam empedu di saluran pencernaan sebelum dikeluarkan dari tubuh.
Bukan Beras Shirataki
Beras porang dan beras shirataki sering dianggap sama karena keduanya sama-sama berasal dari tanaman keluarga Amorphophallus dan kaya akan glukomanan. Namun, keduanya memiliki perbedaan pada bahan baku dan teksturnya.
Beras porang umumnya dibuat dari porang (Amorphophallus muelleri), tanaman yang banyak dibudidayakan di Indonesia.
Sementara itu, shirataki berasal dari konjac (Amorphophallus konjac) yang lebih banyak ditemukan di Jepang dan beberapa negara Asia Timur.
Dari segi tekstur, beras porang umumnya dibuat agar lebih menyerupai nasi putih, sedangkan shirataki cenderung lebih kenyal, licin, dan sedikit transparan.
Beras porang dapat menjadi salah satu alternatif bagi orang yang ingin menambah asupan serat sekaligus mengurangi konsumsi kalori dan karbohidrat.
Namun, karena mengandung serat yang tinggi, konsumsinya sebaiknya diimbangi dengan minum air putih yang cukup agar sistem pencernaan lancar.



















