Memasuki bulan Agustus, berbagai persiapan menyambut Hari Kemerdekaan mulai terlihat di tengah masyarakat.
Selain memasang bendera Merah Putih dan menggelar berbagai kegiatan, sejumlah daerah juga memiliki tradisi kuliner yang turut hadir dalam perayaan 17 Agustus.
Salah satunya adalah bubur merah putih. Sajian tradisional yang terdiri dari bubur berwarna merah dan putih ini tidak hanya memiliki tampilan yang sesuai dengan nuansa kemerdekaan, tetapi juga menyimpan makna untuk perayaan kemerdekaan.
Merangkum dari berbagai sumber, berikut fakta-fakta terkait bubur merah putih yang sedang untuk kudapan penutup.
Bubur Merah Putih
Bubur merah putih adalah sajian berbahan dasar beras atau beras ketan yang di sejumlah daerah dikenal sebagai jenang abang putih dan bubur sengkolo.
Sajian ini biasanya hadir dalam acara kelahiran, pemberian nama anak, pernikahan, hingga tasyakuran.
Bubur putih umumnya dibuat dengan beras atau ketan yang dimasak bersama santan dan sedikit garam sehingga menghasilkan rasa gurih. Sementara itu, warna merah pada bagian lainnya diperoleh dari gula merah atau gula aren yang memberikan cita rasa manis.
Dengan warna merah dan putih yang berdampingan, bubur ini tidak hanya menjadi sajian makanan, tetapi juga memiliki filosofi dan doa yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam perkembangannya, bubur merah putih juga kerap disajikan dalam perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus.
Makna Warna
Warna putih dimaknai sebagai simbol kesucian, ketulusan, ketenangan, dan unsur spiritual. Sementara warna merah dikaitkan dengan keberanian, kekuatan, semangat, serta kehidupan.
Dalam salah satu pemaknaan tradisional Jawa, warna putih juga dikaitkan dengan unsur laki-laki, sedangkan merah dikaitkan dengan unsur perempuan.
Pertemuan kedua unsur tersebut kemudian menjadi simbol lahirnya kehidupan baru. Karena itu, bubur merah putih sering hadir dalam momen kelahiran dan berbagai bentuk syukuran.
Simbol Tolak Bala
Dalam tradisi masyarakat Jawa, bubur merah putih juga dipercaya memiliki fungsi simbolis sebagai tolak bala, yakni doa agar terhindar dari marabahaya atau nasib buruk.
Setelah didoakan, bubur biasanya dibagikan kepada keluarga, tetangga, atau tamu. Kebiasaan tersebut menjadi bentuk berbagi kebahagiaan dan rezeki sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.
Identik Bubur Kemerdekaan
Memiliki warna yang sama dengan bendera Indonesia, bubur merah putih dapat disajikan dalam acara syukuran atau kegiatan warga untuk memperingati Hari Kemerdekaan.
Sajian tersebut menjadi bagian dari suasana perayaan sekaligus memperkenalkan kembali makanan tradisional kepada masyarakat.
Warna merah dan putih pada bubur juga dapat dimaknai sejalan dengan semangat perayaan kemerdekaan. Merah mengingatkan pada keberanian dan semangat perjuangan, sedangkan putih dapat dimaknai sebagai ketulusan dan niat baik.
Cara Membuat
Untuk membuat bubur putih, beras atau ketan dimasak bersama santan, garam, dan daun pandan. Bahan tersebut kemudian dimasak hingga teksturnya lembut dan mengental.
Sementara itu, bubur merah dibuat dengan bahan dasar yang sama, kemudian ditambahkan gula merah atau gula aren.
Setelah kedua bagian matang, bubur merah dan putih disajikan berdampingan dalam satu wadah. Penyajian tersebut membuat dua warna tetap terlihat jelas sekaligus mempertahankan ciri khas hidangan ini.
Kandungan Gizi
Beras atau beras ketan menjadi sumber karbohidrat yang memberikan energi bagi tubuh. Penggunaan santan menambahkan kandungan lemak, sedangkan gula merah atau gula aren memberikan rasa manis sekaligus tambahan energi.
Meski demikian, bubur merah putih sebaiknya tetap dikonsumsi dalam jumlah yang wajar. Kandungan gula dan santan dalam sajian dapat membuat asupan energi menjadi cukup tinggi apabila dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.
Bubur merah putih bukan sekadar hidangan dengan warna merah dan putih. Sajian ini menyimpan berbagai makna, hingga penuh gizi.
Di tengah berbagai sajian modern yang hadir dalam perayaan 17 Agustus, bubur merah putih tetap memiliki tempat sebagai warisan kuliner yang membawa cerita, filosofi, dan nilai kebersamaan dari generasi ke generasi.





















