Minyak jelantah masih menjadi persoalan lingkungan yang kerap muncul dari aktivitas memasak sehari-hari.
Ketika dibuang begitu saja ke wastafel, saluran air, atau tanah, minyak bekas dapat menimbulkan masalah baru, mulai dari penyumbatan saluran hingga pencemaran lingkungan.
Di sisi lain, minyak jelantah sebenarnya memiliki nilai guna apabila dikelola dengan tepat. Limbah dari minyak goreng bekas tersebut dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku berbagai produk, termasuk biodiesel.
Tapi seperti apa langkah yang benar membuang minyak jelantah agar tidak mencemari lingkungan? Dilansir dari laman Waste 4 Change (29 Mei 2021), berikut langkah yang tepat untuk solusi minyak jelantah rumahan.
Jangan Buang Sembarangan
Minyak jelantah adalah minyak goreng yang sudah digunakan untuk memasak atau menggoreng. Setelah digunakan berulang kali, kualitas minyak akan menurun.
Perubahan dapat terlihat dari warna yang semakin gelap, aroma yang tidak sedap, hingga tekstur yang lebih kental.
Namun, persoalan tidak berhenti pada kualitas minyak untuk konsumsi. Cara membuang minyak jelantah juga perlu diperhatikan karena minyak yang masuk ke saluran air atau lingkungan dapat menimbulkan dampak.
Dampak Buang Sembarangan
Adapun dampak jelantah dibuang sembarangan yaitu menyumbat saluran air, karena minyak yang dibuang ke westafel dapat menempel pada bagian dalam pipa.
Kemudian, minyak yang dibuang sembarangan dan masuk ke sungai dapat membentu laporan permukaan mencemari ekosistem perairan.
Lalu membuang minyak jelantah langsung ke tanah juga bukan pilihan yang tepat. Minyak dapat menutupi permukaan tanah dan memengaruhi pori-porinya sehingga kondisi tanah dapat terganggu.
Cara Buang Jelantah
Jika memiliki minyak jelantah di rumah, jangan langsung menuangkannya ke wastafel atau halaman. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.
1. Dinginkan Minyak Terlebih Dahulu
Setelah selesai digunakan, tunggu hingga minyak benar-benar dingin. Jangan memindahkan minyak dalam kondisi masih panas karena dapat menyebabkan luka bakar dan merusak wadah tertentu.
2. Saring dari Sisa Makanan
Jika terdapat remah makanan atau kotoran, saring minyak terlebih dahulu. Langkah ini membantu membuat minyak lebih mudah disimpan atau dikumpulkan untuk proses pengolahan selanjutnya.
3. Simpan dalam Wadah Tertutup
Masukkan minyak jelantah yang sudah dingin ke dalam botol atau wadah yang dapat ditutup rapat. Pastikan wadah tidak bocor agar minyak tidak tumpah selama penyimpanan.
4. Setorkan ke Tempat Pengumpulan Jelantah
Jika tersedia, minyak jelantah dapat disetorkan ke bank sampah, pengepul, atau program pengumpulan minyak jelantah. Dengan cara ini, minyak tidak langsung menjadi limbah dan masih dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain.
5. Jangan Dicampur dengan Saluran Air atau Tanah
Hindari membuang minyak jelantah ke wastafel, toilet, selokan, sungai, maupun tanah. Menyimpan dan menyalurkannya ke tempat pengelolaan merupakan pilihan yang lebih aman bagi lingkungan.
Sampah Jelantah
Berdasarkan kajian Potensi Minyak Jelantah untuk Biodiesel dan Penurunan Kemiskinan di Indonesia yang disusun TNP2K dan Traction Energy Asia, potensi minyak jelantah nasional diperkirakan mencapai 6,4 juta hingga 9,7 juta kiloliter.
Data tersebut dirilis pada akhir 2020 dengan menggunakan konsumsi minyak goreng sawit nasional pada 2019 sebagai salah satu acuannya. Saat itu, konsumsi minyak goreng sawit di Indonesia mencapai sekitar 16,2 juta kiloliter.
Kajian tersebut memperkirakan minyak jelantah yang dapat dikumpulkan berada pada kisaran 40–60 persen dari total konsumsi minyak goreng.
Angka ini menunjukkan bahwa minyak jelantah bukan sekadar limbah rumah tangga, tetapi juga memiliki potensi ekonomi dan energi apabila dikelola dengan baik.
Masih Bisa Diolah
Daripada berakhir sebagai limbah, minyak jelantah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku biodiesel. Pemanfaatan tersebut membuat minyak bekas memiliki nilai ekonomi sekaligus berpotensi menjadi salah satu sumber bahan baku energi alternatif.
Berdasarkan kajian yang dipaparkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi minyak jelantah di Indonesia cukup besar untuk mendukung pengembangan biodiesel.
Selain itu, minyak jelantah juga dapat diolah menjadi produk lain, seperti sabun dan lilin, melalui proses pengolahan yang sesuai.
Minyak jelantah bukan sekadar limbah dari aktivitas memasak sehari-hari. Dengan potensi yang mencapai jutaan kiloliter, pengelolaan minyak bekas juga dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi pencemaran sekaligus memanfaatkannya sebagai bahan baku produk bernilai guna.




















