Pernah nggak sih lagi nongkrong bareng teman, tapi entah kenapa cuma kamu sendiri yang sibuk nepok-nepok badan karena digigit nyamuk?

Sementara teman di sebelahmu bisa duduk santai tanpa satu pun bentol. Kamu pasti mikir ini terjadi karena nyamuk memang lebih suka orang dengan “darah manis”.

Bahkan, ada anggapan kalau golongan darah O memang jadi favorit nyamuk. Tapi benar nggak sih?

Nah, ternyata nyamuk punya beberapa “petunjuk” untuk menentukan manusia yang akan dijadikan sasaran, lho. Penasaran apa aja kriterianya? Yuk, simak penjelasan berikut ini!

1. Napasmu Bisa Jadi “Radar” Nyamuk

Jangan heran kalau habis olahraga kamu malah jadi sasaran empuk nyamuk. Sebab, menurut ahli entomologi dari University of Colorado Boulder, Sammy Ramsey, nyamuk mendeteksimu lewat karbon dioksida atau CO2​ yang dikeluarkan saat bernapas.

Semakin banyak CO2​ yang dikeluarkan, semakin mudah keberadaan seseorang terdeteksi nyamuk. Nah, aktivitas fisik seperti olahraga ternyata dapat meningkatkan jumlah CO2​ yang dilepaskan tubuh.

2. Nyamuk Juga Bisa “Mencium” Kamu

Setelah menemukan sumber CO2​, nyamuk akan menggunakan aroma tubuh untuk menentukan targetnya. Hal ini terjadi karena kulit manusia menghasilkan campuran minyak, keringat, dan berbagai senyawa yang kemudian berinteraksi dengan bakteri alami di permukaan kulit.

Karena setiap orang punya kondisi kulit dan bakteri yang berbeda, aroma yang dihasilkan juga berbeda, lho. Nah, kombinasi inilah yang menarik nyamuk. Jadi, meski duduk di tempat yang sama, kamu dan temanmu bisa mengeluarkan “sinyal” yang berbeda bagi nyamuk.

3. Habis Workout

Baru selesai workout terus langsung nongkrong di luar? Jangan kaget kalau nyamuk akan mendatangimu.

Keringat kita mengandung senyawa seperti asam laktat dan amonia yang dapat dideteksi nyamuk. Suhu tubuh yang meningkat setelah beraktivitas juga bisa membantu nyamuk menemukan manusia ketika sudah berada dalam jarak dekat.

Makanya, saat kamu lagi keringatan, nyamuk bisa saja lebih cepat menemukanmu dibandingkan teman yang duduk santai.

4. Jenis Minuman yang Dikonsumsi

Ternyata, ada penelitian yang mengaitkan apa yang kamu konsumsi dengan daya tarik terhadap nyamuk.

Menurut University of Colorado Boulder, beberapa penelitian menemukan bahwa orang yang baru mengonsumsi bir lebih menarik bagi nyamuk dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya.

Penelitian lain juga mengaitkan konsumsi pisang dan cannabis dengan peningkatan daya tarik terhadap nyamuk.

Jadi, jangan buru-buru percaya kalau vitamin B atau bawang putih bisa menjadi “senjata rahasia” untuk mengusir nyamuk, karena klaim ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah.

5. Bisa Jadi Faktor Genetik

Kalau dari dulu kamu merasa selalu jadi “langganan” gigitan nyamuk, bisa jadi itu terjadi karena faktor genetik.

Penelitian terhadap pasangan kembar yang dilakukan London School of Hygiene & Tropical Medicine menemukan adanya perbedaan daya tarik terhadap nyamuk antara kembar identik dan kembar fraternal.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa faktor genetik dapat berkontribusi terhadap daya tarik seseorang bagi nyamuk, kemungkinan melalui pengaruhnya terhadap karakteristik aroma tubuh.

Namun, gen bukan satu-satunya penentu. Ada banyak faktor lain yang ikut memengaruhi.

Jadi, kalau kamu selalu jadi orang pertama yang digigit saat duduk bareng teman, kemungkinan bukan karena darahmu lebih “manis”. Bisa saja itu terjadi karena nyamuk betina menggunakan berbagai metode untuk menemukanmu.

Nah, temanmu yang kelihatannya “kebal” belum tentu benar-benar kebal. Bisa saja tubuhnya memang menghasilkan kombinasi sinyal yang kurang menarik bagi nyamuk.

Biar tetap aman pas kamu lagi ada aktivitas di luar, jangan lupa siap sedia lotion anti-nyamuk, ya!