Masyarakat yang gemar mengonsumsi ikan kakap diminta lebih cermat dalam memilih ikan, terutama dengan memperhatikan asal, jenis, ukuran, hingga lokasi penangkapannya.
Sebab, ikan kakap yang terlihat segar belum tentu terbebas dari ciguatoksin yang dapat menyebabkan keracunan ciguatera.
Dosen Departemen Teknologi Hasil Perairan IPB University, Prof. Joko Santoso, mengatakan masyarakat tidak perlu menghindari ikan kakap secara umum.
Menurutnya, risiko kesehatan hanya muncul pada kondisi tertentu yang berkaitan dengan karakteristik ikan dan lingkungan tempat ikan tersebut hidup.
Ikan kakap pada umumnya aman dikonsumsi. Risiko muncul pada kondisi tertentu, terutama terkait jenis dan ukuran ikan, habitat, lokasi penangkapan, serta cara penanganannya,”
ujar Prof. Joko dalam keterangan resminya, Kamis 17 September 2026.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah ciguatoksin. Racun tersebut berasal dari rantai makanan laut, termasuk mikroalga seperti Gambierdiscus, kemudian dapat terakumulasi pada ikan yang memakan organisme laut yang telah terkontaminasi.
Risiko ciguatoksin, kata Joko, lebih perlu diwaspadai pada ikan karang berukuran besar dan bersifat predator. Ikan yang hidup lebih lama dapat mengakumulasi toksin dalam jumlah lebih banyak.
Spesies, habitat, ukuran, umur, dan lokasi penangkapan menjadi faktor penting. Kakap yang hidup di ekosistem terumbu karang dan berukuran lebih besar serta lebih tua cenderung lebih berisiko mengakumulasi ciguatoksin,”
jelasnya.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan beberapa hal ketika membeli ikan kakap. Berikut tujuh tips memilih ikan kakap yang diberikan Joko Santoso:
- Pilih ikan dari sumber yang jelas. Masyarakat disarankan membeli ikan dari sumber yang mengetahui asal tangkapan, seperti nelayan, pasar, atau penjual yang dapat memberikan informasi mengenai ikan tersebut.
- Tanyakan lokasi penangkapan. Lokasi menjadi salah satu faktor penting untuk diperhatikan. Masyarakat sebaiknya menghindari ikan kakap dari wilayah yang diketahui memiliki kasus ciguatera atau sedang mendapatkan peringatan resmi terkait risiko tersebut.
Ciguatera terutama menjadi perhatian di wilayah tropis dan subtropis tertentu. Karena itu, tidak semua perairan memiliki tingkat risiko yang sama,”
kata Prof. Joko.
- Waspadai kakap yang berukuran sangat besar. Kakap berukuran besar, khususnya yang merupakan predator dan berasal dari ekosistem terumbu karang, perlu mendapat perhatian lebih. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan akumulasi toksin sepanjang rantai makanan.
- Jika tersedia, pilih ikan berukuran lebih kecil. Ukuran dan usia ikan turut memengaruhi potensi akumulasi toksin. Ikan yang lebih besar dan lebih tua dapat mengandung toksin dalam jumlah lebih banyak.
- Jangan hanya mengandalkan tampilan ikan. Ikan yang mengandung ciguatoksin belum tentu menunjukkan perubahan secara fisik. Bahkan, ikan tersebut dapat terlihat sehat dan segar ketika dijual.
Jangan mengandalkan kesegaran ikan untuk mendeteksi ciguatoksin. Ikan yang terlihat segar tetap dapat mengandung toksin,”
ujar Joko.
Selain itu, ciguatoksin juga tidak dapat dikenali hanya melalui perubahan rasa, bau, maupun tampilan ikan.
- Perhatikan tanda-tanda kesegaran ikan. Meski kesegaran tidak dapat digunakan untuk mendeteksi ciguatoksin, kondisi ikan tetap penting diperhatikan untuk mengurangi risiko keracunan akibat bakteri.
Joko menyarankan masyarakat memilih ikan dengan mata jernih, insang tidak berlendir atau berbau menyengat, serta daging yang masih kenyal. Ikan juga sebaiknya disimpan dalam kondisi dingin.
ujar Joko.
- Masak hingga matang, tetapi jangan menganggap racun hilang. Memasak ikan hingga matang dapat membantu mengurangi risiko yang berasal dari mikroorganisme. Namun, cara tersebut tidak dapat menghancurkan ciguatoksin.
Masak ikan hingga matang untuk mengurangi risiko mikroorganisme. Namun, memasak tidak menghancurkan ciguatoksin,”
tegasnya.
Joko juga mengingatkan bahwa selain ciguatoksin, ikan yang berasal dari perairan tercemar dapat mengandung merkuri maupun polutan lainnya.
Risiko tersebut umumnya lebih menjadi perhatian pada ikan predator berukuran besar dan berumur panjang.
Yang paling penting, jika suatu daerah memiliki peringatan resmi mengenai ciguatera, sebaiknya jangan mengonsumsi ikan karang predator dari daerah tersebut meskipun ikannya tampak sehat,”
pungkas Joko.






