Para ahli menyebutkan umur panjang disebabkan dengan beberapa faktor, seperti pola makan sehat dan gaya hidup teratur, termasuk juga berjalan kaki dan bersepeda seperti secara rutin.

Senang, karena begitu banyak orang menjalani hidup yang panjang, sehat, dan aktif,”

kata Menteri Kesehatan Jepang, Kenichiro Ueno, dikutip dari bbcnews.com, Jumat, 18 September 2026.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang, terdapat 107.677 orang berusia 100 tahun atau lebih per 1 September 2026.

Jumlah tersebut meningkat sebanyak 7.914 orang dibandingkan tahun sebelumnya, dan menjadi rekor tertinggi selama 56 tahun berturut-turut.

Dari jumlah tersebut, sekitar 88 persen merupakan perempuan. Jepang juga memiliki sejumlah penduduk dengan usia yang sangat lanjut.

Kishimoto Fuyo, perempuan berusia 114 tahun dari Kyoto, tercatat sebagai orang tertua di Jepang. Sementara itu, Kato Hikaru, pria berusia 112 tahun dari Kumamoto, menjadi pria tertua di negara tersebut.

Krisis Eksistensial

Di sisi lain, Jepang juga menghadapi persoalan penurunan populasi. Jumlah penduduk Jepang diperkirakan akan menyusut menjadi sekitar 87 juta jiwa pada 2070.

Pada 2025, total populasi Jepang juga kembali mengalami penurunan. Rendahnya angka kelahiran menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Jepang.

Tekanan hidup, beban pekerjaan, serta perubahan pandangan terhadap pernikahan dan memiliki anak, turut menjadi faktor yang sering dikaitkan dengan menurunnya angka kelahiran di negara tersebut.

Pemerintah Jepang pun terus mengembangkan berbagai program dan memberikan subsidi untuk mendorong masyarakat memiliki anak, sekaligus menekan laju penurunan populasi.